Itu bukan biografi. Sebab, setidaknya, biografi harus memenuhi tiga unsur. Dan, tiap penulis biografi harus tahu pakem-pakem penulisan biografi tersebut.
Pertama, orientasi. Unsur pertama ini merupakan pengenalan dari subjek yang diceritakan. Tentu ini meliputi data diri sang subjek, yang dalam kepentingan administrasi biasa disebut biodata atau curriculum vitae (CV). Tapi tak cukup di situ. Masih diperlukan latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan, hingga kompetensi atau keahliannya. Atau fan yang dikuasai dalam dunia pesantren.

Unsur pertama ini sangat penting dalam penulisan biografi. Sebah, misalnya, tanggal dan tahun kelahiran bukan sekadar angka. Ia titimangsa. Ia setting sejarah yang menjelaskan pada zaman apa seseorang dilahirkan. Begitu juga dengan variabel latar belakang keluarga dan pendidikan, akan menjelaskan bagaimana seseorang dilahirkan dan diasuh. Kiprah dan peran seseorang dalam kehidupan masyarakat nyaris tak pernah lepas dari dua hal tersebut.
Kedua, peristiwa, atau juga biasa disebut masalah atau kejadian-kejadian penting dalam penulisan biografi. Unsur kedua ini bisa dibilang inti dari biografi. Sebab, ia menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman hidup seseorang. Di dalamnya tentu menyorot rintangan, konflik, atau bahkan kegagalan yang pernah dihadapi seseorang. Bagaimana orang yang kita “biografikan” mengatasi itu semua teramat penting untuk diabaikan. Bahkan, di sanalah pelajaran terpenting yang bisa diambil.
Ketiga, reorientasi. Dalam penulisan biografi, ini merupakan bagian penutup. Lazimnya, berisi kesimpulan, pandangan penulis, atau warisan (legacy) serta nilai moral yang bisa dipetik pembaca dari perjalanan hidup tokoh tersebut.
