Lubang-Lubang Rayap di Kitab Kiai Hamdani

Nggeh,” Kang Rouf menjawab singkat.

“Semoga niatnya benar. Bukan mondok untuk numpang tidur,” ucap Kiai itu seraya mengedarkan pandangan ke hamparan sawah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Nggeh Kiai, amin.”
Kiai Hamdani lantas terdiam. Dan Kang Rouf sibuk menerka apa gerangan yang sedang dipikirkan oleh gurunya itu.

“Tapi hidayah memang bisa datang kepada siapa saja,” gumam Kiai Hamdani kemudian. Ada sesungging senyum yang tiba-tiba merekah di sudut bibirnya. “Termasuk bagi santri yang niatnya mondok hanya untuk mencari tempat berteduh. Ketika memulai suatu hal niatnya mungkin ada yang tidak baik, namun bisa saja di tengah jalan Allah memberinya hidayah. Bahwa mencari ilmu agama itu harus dinomorsatukan. Menuntut ilmu di bangku sekolah adalah pelengkap. Sedangkan mengaji ilmu agama di pesantren adalah sebuah kewajiban, dan salah satu jalan untuk merengkuh keridhaan-Nya.”

Tak berapa lama kemudian Kiai Hamdani pulang. Kang Rouf mengikuti tidak jauh di belakangnya. Dan dua santri baru itu akhirnya diterima sebagai santri Pondok Parakan. Pesantren kecil itu semakin dipenuhi santri yang juga nyambi sekolah di MTs Parakan. Hal itu menjadi penyebab sepinya suasana pondok di pagi hari, hampir semua penghuni pondok itu berada di sekolah.

Bersamaan dengan penerimaan siswa baru di MTs, Pondok Parakan pun terus dibanjiri santri. Tiga hari berikutnya ada tiga santri baru yang mendaftar dalam sehari. Kang Rouf mengecek seluruh kamar untuk mencari ruang bagi tiga santri baru itu. Sayang sekali, semua ruang di Pondok Parakan telah terisi penuh. Bahkan sekarang banyak santri yang tidur di serambi masjid ketika malam datang. Kamar atau bilik-bilik santri telah penuh sesak. Dengan raut takut Kang Rouf melaporkan kondisi pondok yang sudah tidak muat lagi. Dan dengan berat hati Kiai Hamdani kemudian menolak pendaftaran santri baru.

Hingga larut malam Kiai Hamdani tidak bisa tidur. Pikirannya bertaut dengan kemungkinan-kemungkinan. Matanya menerawang langit-langit kamar yang seolah mengajaknya bicara. Ada sesuatu yang mengganjal dalam benaknya. Beban pikiran yang sedang menyesakinya telah mengganggu keikhlasan dalam menyukuri nikmat-Nya. Keadaan finansial yang pas-pasan seolah menutup keinginan baiknya menampung banyak santri.

Saat kemauan tak sesuai dengan kemampuan itulah dia semakin sadar, bahwa tak ada satu kebaikan pun tanpa anugerah-Nya. Tak mampu menghentikan alur deras pikirannya, Kiai Hamdani kemudian beranjak dari ranjang. Ia ambil air wudhu untuk kemudian melakukan salat sunnah. Ia tumpahkan segala keluh kesah pada Sang Pencipta kehidupan.

Keesokan harinya datanglah juragan tebu yang memiliki yayasan MTs Parakan.

“Kudengar Kiai sudah tidak mau menampung lebih banyak santri lagi. Bahkan tetangga saya harus pulang dengan menelan kekecewaan karena tak diterima menjadi santrimu, Kiai. Apa santrinya terlalu banyak? Pondoknya sudah tidak muat lagi?”juragan tebu mencecar tanya. Mengumbar kata.

Tampak ada gundah di wajah Kiai Hamdani. Ketegarannya menghadapi pernak-pernik kehidupan seolah sedang diuji.

“Kali ini mohon Kiai mau menerima uluran tangan saya. Biar saya punya bekal untuk kehidupan di akhirat kelak. Biarkan anak-anak yang ingin memahami agamanya tidak lagi ditolak untuk nyantri di pondok ini. Terimalah amplop ini Kiai, untuk kebaikan dan kelangsungan agama ini,” halus kata-kata juragan tebu itu meluluhkan hati Kiai Hamdani.

Amplop tebal berisi uang itu teronggok di atas meja. Kiai Hamdani memandangnya ragu. Matanya mengikuti langkah kaki juragan tebu yang juga merupakan pejabat di kabupaten itu semakin jauh meninggalkannya.
Hingga beberapa saat lamanya pengasuh Pondok Parakan itu terdiam di ruang tamu, ditemani seonggok amplop tebal yang juga membisu.

Pikirannya sedang bimbang. Pondoknya memang sedang memerlukan banyak uang untuk memperbesar bangunan. Namun pesan mendiang bapaknya terus terngiang-ngiang di telinganya. “Jangan sekali-kali menerima uang dari pejabat biar pondok ini tetap barokah. Santri sedikit kalau barokah lebih baik daripada banyak tapi keberkahannya telah hilang,” ucap Kiai Hamid menjelang wafat beberapa tahun yang lalu.

One Reply to “Lubang-Lubang Rayap di Kitab Kiai Hamdani”

Tinggalkan Balasan