Bahkan dialog resmi (tuan-hamba) yang terdapat di dalam cerita rakyat, legenda, atau mitos tertentu selalu dihiasi dengan candaan dan lawakan. Meskipun kritik sosial dan sentilan politik yang memang menjadi bagian sangat penting kesenian ini bukan berarti tidak serius. Paling tidak, yang terakhir ini diperlihatkan dalam kasus ketika melakonkan “Pak Sakerah”, Ludruk lalu dicekal di semua tempat di Jawa Timur oleh Belanda dan Jepang.
Terkesan bahwa Jawa bagi orang-orang Diwek dan umumnya orang Jawa Timur, tidaklah tunggal seperti yang direpresentasikan Kethoprak. Orang Jawa – dan kejawaan – tidak hanya seperti yang terlukis dalam buku-buku sejarah, babad, serat, dan seluruh dokumen yang dibuat oleh dan untuk kepentingan elite politik dan kaum terpelajar kota. Masih banyak representasi Jawa lain yang tersebar di berbagai tempat, termasuk di dalamnya cerita rakyat, legenda, dan mitos yang selama ini kurang diakui oleh pemangku kekuasaan politik maupun intelektual.

Tetapi bisa juga, orang-orang Diwek seperti halnya kebanyakan orang-orang Jawa Timur, memandang bahwa Yogya-Solo bukanlah representasi keagungan Jawa.
