Kesenian Ludruk memang memudar dan mungkin sia-sia berharap bangkit kembali meski untuk hal-hal lain yang lebih baru, tetapi ia telah mewariskan budaya tanding dengan dominant culture yang sangat penting. Soalnya, apakah kita mampu menjaga warisan itu, sebuah kemampuan memproduksi budaya tandingan dengan bahan baku kekayaan kultural arus bawah?
