Sebuah monster mengerikan. Kepalanya seperti tumpukan bungkusan bekas, dikerubungi ribuan lalat, menyemburkan bau busuk yang mencekik setiap napas. Tangannya menyergap dengan cengkeraman berkarat dan tajam.
Bumi seperti berguncang. Di sekeliling monster itu, pohon-pohon remuk, air sungai beringsut, bangunan-bangunan retak, air laut meluap setinggi menara. Mata monster itu menyala merah bara. Sayap-sayapnya berkilauan dengan sisik-sisik plastic. Kuku-kukunya merobek-robek, menciptakan jurang-jurang dalam yang gelap dan mengerikan.

Tangan kecil itu kemudian mengambil penghapus, menggosok bagian kepala monster itu berkali-kali hingga luntur. Lalu ia ganti dengan beberapa gambar kepala, mungkin puluhan, ada yang sungsang, ada yang retak, ada pula yang cembung. Kepala-kepala itu… ya, kepala manusia.
“Kenapa kepala monsternya diganti? Jadinya kan gak keren, Mi?” tanyaku.
“Terserah akulah, Om. Kan, aku yang menggambar, suka suka aku dong,” jawab Fahmi sambil menutup buku gambarnya.
“Iya, iya,” balasku.
“Makan yuk, Om! Aku sudah lapar ini. Yuk, yuk!” ajak Fahmi sambil menarik-narik tanganku.
Aku mengiyakannya. Fahmi merengek minta digendong. Kubopong tubuh mungilnya, lalu kuletakkan di bahu. Sesekali ia digelitiki oleh beberapa santri yang berpapasan. Fahmi tertawa girang. Kadang berusaha membalasnya dengan pukulan yang membuat tubuhku sedikit oleng.
Sampai di kantin, aku menunggu antrean panjang, sementara Fahmi memilih bermain donal bebek bersama Andre, putra Bu Inah, penjaga kantin. Aku tersenyum, sekaligus terenyuh: Fahmi, anak kecil yang masih berusia belum genap delapan tahun itu, masih terlalu dini untuk menjajah hidup di pesantren. Seharusnya ia masih merasakan kehangatan pelukan ibunya, bobok nyaman di pangkuannya, diantar ke sekolah dengan penuh cinta, atau dibelikan mobil mainan idamannya.
***
“Ayah ibunya berpisah sejak Fahmi masih bayi. Tak ada yang mau mengurusinya. Bayi itu mereka titipkan ke saya, tetangganya,” ujar Pak Darmin beberapa bulan lalu saat mengantar dan memasrahkan Fahmi ke pesantren seorang diri.
Sejak bercerai, ayah Fahmi memilih merantau ke Malaysia dan kabarnya masih belum belum pulang sampai sekarang. Sementara, ibunya memutuskan untuk menikah lagi dan telah memiliki seorang anak.
Sedangkan Pak Darmin, sejak saat itu tak pernah mengunjungi Fahmi sama sekali, bahkan untuk sekadar menitipkan uang kiriman. Tapi, aku tidak bisa menyalahkan Pak Darmin, sebab Fahmi bukan tanggungannya. Lagi pula, Pak Darmin juga yang sudah merawat Fahmi sejak kecil hingga sekarang. Untungnya, segala kebutuhan Fahmi akan ditanggung oleh pesantren yang merupakan perintah langsung dari pengasuh.
Aku yang kebetulan menjadi salah satu pengurus yang bertugas untuk mengurusi penerimaan santri baru saat itu, merasa iba, lantas kusediakan diri untuk menjaga dan merawat Fahmi seperti adik kandung sendiri. Sungguh.
Beberapa hari di pesantren, Fahmi memang sedikit manja, seperti anak kecil pada umumnya. Tapi yang membuatku kagum, Fahmi langsung merasa nyaman di pesantren, berbeda dengan santri baru lainnya yang biasanya masih sering menangis karena teringat rumah. Tapi wajar saja, Fahmi tidak punya kenangan manis di rumahnya, keluarga saja tidak punya. Jadi, apa yang akan dia rindukan dari kampung halamannya?
Aku tidak pernah sekali pun melewatkan waktu untuk tidak bersama Fahmi; mulai menemaninya tidur, mengantarkannya ke kamar mandi, ke sekolah, menemani bermain, hingga ikut salat berjamaah ke masjid, atau aktivitas-aktivitasnya yang lain.
Satu yang unik dari Fahmi; suka menggambar, ia seperti memiliki dunia sendiri dalam goresan pensilnya, seolah ia menciptakan tempat pelarian dari realitas yang pahit. Tapi Fahmi tidak pernah menggambar gunung yang di tengahnya ada matahari tersenyum. Tidak juga menggambar sawah yang di tengahnya ada sungai mengalir. Fahmi lebih suka menggambar monster, anime, atau lebih tepatnya mirip-mirip sama komik, mengandung unsur cerita. Namun, bedanya, Fahmi tidak pernah menyertakan tulisan dialog dari karakter yang ia gambar.
***
“Nasi apa, Kang?” tanya Bu Ina, penjaga kantin, setelah sedari tadi sibuk melayani santri-santri lain.
“Nasi pecel, saja, Bu. Dua,” jawabku.
“Bungkus atau makan sini, Kang?”
“Bungkus saja.”
“Jangan dibungkus, Om! Makan sini saja!”
Tiba-tiba Fahmi menyahut.
Aku mengangguk paham. Fahmi memang seperti itu, tidak pernah mau kalau nasinya dibungkus. Fahmi bilang karena alasan akan jadi monster mengerikan, aku sama sekali tidak paham, ya, namanya juga anak kecil.
“Oh iya, Mi!” balasku.
“Satu makan sini, satunya bungkus,” susulku pada Bu Ina.
Sudah beberapa kali, aku selalu menunggu Fahmi makan di kantin yang sesak dan ramai. Sementara aku enggan, tidak terbiasa bahkan tidak suka makan di tempat yang ramai. Aku lebih suka makan di bilik pondok. Salah satu alasannya, semisal aku makan di kantin yang penuh sesak dengan santri, aku takut ada salah satu tingkah atau adab yang salah, yang kemudian dilihat santri-santri, lalu ditiru, atau bahkan yang lebih parahnya, aku akan dijadikan bahan omongan dari komplek ke komplek santri.
“Masa pengurus makannya sambil bicara?”
“Pengurus sih, tapi makannya sambil jongkok.”
