Mbah Kandar dan Nujum “Ruyung Berkedok Jati”

“Diusir Kiai Kholil”

Pengembaraan Mbah Kandar terhenti di Jember, saat ia berguru kepada KH Shiddiq, ayah dari KH Achmad Shiddiq, Rais Am PBNU. Tertarik dengan cerita-cerita KH Ahmad Shiddiq akan keulamaan Kiai Kholil bin Abdul Latif Bangkalan, Mbah Kandar akhirnya berangkat ke Madura.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Saat bertemu kiai idolanya itu, belum sempat Mbah Kandar mengutarakan maksud dan tujuan kedatangannya, dengan nada membentak, Kiai Kholil memerintahkan Mbah Kandar memakan buah salak yang telah tersedia di hadapannya. Tanpa berpikir panjang, Mbah Kandar langsung memakannya sampai habis.

Setelah itu, Kiai Kholil justru “mengusir” Mbah Kandar dalam logat Madura bercampur Jawa. “Kandar, muliho, mulih! Elmona sengkok, tadeklah ekalak Kiai Kandar! Muliho, mulih! Muliho Askandar Banyuwangi!” Artinya kira-kira begini: Kandar, pulanglah, pulang! llmuku sudah habis kau makan. Pulanglah, pulang, pulang! Pulanglah ke Banyuwangi!

Samina wa athona, Mbah Kandar melanjutkan pengembaraannya ke Banyuwangi. Di Banyuwangi, ia mondok di Pondok Pesantren Jalen, Dusun Setail, Genteng, Banyuwangi. Ia berguru KH Abdul Basyar, yang juga pernah menjadi gurunya Kiai Kholil. Di Pondok Jalen inilah Mbah Kandar bertemu dengan Mbah Manan, yang sama-sama asal Kediri. Di Pondok Jalen ini, keduanya tercatat sebagai santri senior yang sudah menguasai banyak kitab kuning. Karena itu, oleh Kiai Basyar, Mbah Kandar justru ditugasi mengajar kitab Iqna –salah satu kitab fiqih tingkat atas yang awalnya diampu oleh Kiai Manan.

Saat Mbah Manan menjadi pengganti Kiai Basyar yang telah wafat, Mbah Kandar diambil menantu oleh Mbah Manan. Dalam perkembangannya, saat Mbah Manan meninggalkan Pondok Jalen pada 1929 dan mendirikan pondok sendiri di Sumberberas, Kecamatan Muncar, Mbah Kandar ikut serta. Beberapa lama Mbah Kandar ikut membantu mengembangkan Pondok Pesantren Minhajut Thullab yang dirintis mertuanya.

Namun, pada 1932, atas restu Mbah Manan, Mbah Kandar mendirikan pesantren sendiri, yaitu Pesantren Mambaul Ulum, yang letaknya juga tak jauh dari Pondok Pesantren Minhajut Thullab. Hingga kini, Pondok Pesantren Mambaul Ulum menjadi salah satu pesantren besar di Banyuwangi dengan jumlah santri mencapai ribuan orang. Selain tetap mempertahankan model pengajian salaf, di Pondok Pesantren Mambaul Ulum juga telah dikembangkan lembaga-lembaga pendidikan formal hingga perguruan tinggi.

Tinggalkan Balasan