Megengan, Poso, dan Corona

Mungkin, hal inilah yang memaksa Bumi untuk mengeluarkan antibodinya. Bumi yang sudah melulu dilukai akhirnya terpaksa mengeluarkan jurus pamungkasnya guna mengembalikan ekuilibrium yang sudah dicabik-cabik oleh kita, manusia. Jurus tersebut lantas kita namai virus Corona. Segumpal virus yang memaksa manusia untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk materialisme, menepi dari keramaian jagad gemerlap, menahan diri dari geliat kapitalisme yang semakin menjadi. Manusia dipaksa untuk takluk dengan alam dan menyadari posisi dirinya yang rapuh.

Akhirnya, di saat seperti inilah, Megengan dan puasa saya kira menemukan konteksnya. Manusia, mau tidak mau, dituntut untuk megeng, atau menahan dan dilanjut dengan poso  atau ngeposke roso. Sekaranglah momentum yang tepat bagi kita untuk sama-sama introspeksi diri, melihat ke dalam sambil mengira-ngira sedalam apa kita sudah memberi luka pada Bumi kita. Kita harus mau dengan rendah hati mengakui bahwa selama ini, kitalah yang menyebabkan Bumi sakit. Nafsu-nafsu yang mengekang kita selalu merongrong keseimbangan Bumi. Dan oleh karenanya, lockdown baik secara fisik maupun spiritual bisa kita lakukan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mungkin sudah saatnya kita memberikan Bumi yang sakit ini waktu untuk beristirahat sejenak, menyembuhkan dirinya, sembari kita secara sungguh-sungguh megeng dan poso. Mungkin suatu saat setelah Corona ini reda, kita bisa merayakan Megengan dan poso dengan lebih baik dan dalam. Saya kira, sebagaimana kue Apem dalam Megengan yang konon berasal dari kata afwum yang bermakna permintaan maaf, tidak ada buruknya kita membuat “kue Apem” khusus untuk Bumi ini, sebagai simbol permohonan maaf atas segala kelalaian dan keteledoran kita yang membuat Bumi terluka.

Semoga setelah kejadian ini, setelah Megengan, poso, dan Corona ini, kita bisa menjadi manusia yang lebih bertakwa kepada semesta.

Tinggalkan Balasan