Mendalami Metodologi Islam Nusantara

Kekuatan Islam Nusantara bukan terletak pada garis tekstual keislaman, akan tetapi seberapa banyak teks tersebut mendukung argumen keagamaan dan praktik keagamaan umat Islam Indonesia. Oleh karena itu, kekuatan Islam terletak pada maqasyid islam (maksud atau tujuan utama Islam).

Al-Ghazali merumuskan konsep maqasyid syariah itu ke dalam “Al Usulu –L-Khamsah” atau lima prinsip utama (norma) tujuan agama. Dalam merumuskan lima norma ini, al-Ghazali tidak mengacu kepada teks ayat. Akan tetapi mengacu kepada prinsip burhani (logika). Dalam hal ini acuan Imam al-Ghazali jelas: yaitu premis mayor untuk mengambil kesimpulan dalam menjawab permasalahan hukum.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Juga perlu diketahui bahwa nalar (al-aql) adalah sebuah instrumen berpikir yang digunakan oleh para pemikir Islam di Nusantara (meliputi Wali Songo dan ulama-ulama setelahnya) guna mempertahankan dan membumikan nilai-nilai Islam agar senantiasa selaras dengan kebutuhan masyarakat. Dalam skala yang lebih besar, nalar Islam Nusantara adalah sistem yang memproduksi dan mengelola keilmuan Islam yang dalam hal ini direpresentasikan oleh pesantren-pesantren sebagai pemangku utama keilmuan Islam dari dulu sampai sekarang. Maka, boleh kita katakan, Islam Nusantara adalah keislaman yang dihayati dan dipraktikkan secara terus menerus oleh para santri di Indonesia dari masa ke masa, yang mana penghayatan dan praktik itu adalah buah dari kerja nalar (al-aql) yang selama ini bekerja dalam ruang epistemik.

Studi dan pemahaman Islam Nusantara selayaknya berangkat dan diarahkan kepada nalar pesantren itu secara langsung. Bagaimana proses terbentuknya nalar pesantren? Bagaimana nalar pesantren bekerja dan melahirkan pengetahun keislaman yang sampai hari ini dijiwai oleh masyarakat Indonesia (khususnya Nahdliyyin)? Ini sebagian dari pertanyaan fundamental yang layak dijadikan bahan diskusi awal untuk mendedah Islam Nusantara.

Diskusi seputar Islam Nusantara menjadi tidak bermakna apa pun kalau tidak dipijakkan pada basis tradisi intelektual yang berkembang di Indonesia sejak dahulu sampai hari ini. Mulai dari sisi sejarah, butir pemikiran, sampai pada perihal keterpautan antar-ulama yang ada di Nusantara dan yang ada di Timur Tengah. Semuanya dibingkai dalam satu metode pembacaan kritis, radiks, dan komprehensif sampai kita temukan bagaimana nalar (al-aql) ulama Nusantara terbentuk dan melahirkan seperangkat tradisi intelektual yang sampai hari ini masih terus tersemai di tanah-tanah pesantren di Indonesia.

Dari sini jelas, bahwa Islam Nusantara adalah sebuah proses mengkaji dan berinteraksi secara konstan dengan khazanah keislaman yang mewujud dalam kekayaan intelektual berupa kitab-kitab klasik (kitab kuning) yang selama ini masih terus dibaca dengan penuh minat di pesantren-pesantren. Selain yang berbentuk kitab kuning, warisan tradisi Islam di Nusantara yang kaya akan nuansa lokalitasnya juga menjadi bahan kajian yang sangat penting. Semua warisan-warisan itu menyatu dalam sebuah term, yakni turots (warisan).

Yang Normatif dan Yang Kaffah

Islam Nusantara bukan merupakan Islam tandingan. Juga bukan agama baru. Akan tetapi, Islam Nusantara merupakan keislaman yang pengamalannya menghargai tradisi setempat (lokal). Jika Islam historis dipertentangkan dengan Islam normatif, maka yang terakhir dianggap “Islam asli”. Padahal, ini adalah konstruksi orientalistik. Jadi tidak ada pemilahan antara yang normatif dan yang historis dalam konteks maqashid islam ini.

Manhaji Islam Nusantara tentang maqashid posisinya seperti halnya bermazhab Syafii atau Asyari: apakah mazhab fikih dan usuluddin bukan Islam normatif? Memang bermazhad sesuatu yang aradz, sifat, yang terpisah, partikular – memang tidak ditemukan perintah dalam Al-Quran atau hadis soal bermazhab. Akan tetapi, bermazhab tidak bisa dilepaskan dari ajaran normatif Islam itu sendiri.

Sehingga, Islam Nusantara menjadi contoh atau teladan yang baik tentang Islam yang moderat (bahas kini: tawassuth, i’tidal, tawazun) sehingga umat Islam di Timur Tengah belajar Islam kepada kita.

3 Replies to “Mendalami Metodologi Islam Nusantara”

Tinggalkan Balasan