Mendesak, Tata Ulang Relasi Manusia-Alam

Sementara itu, dalam orasi budaya, Tito Latif Indra memastikan bahwa Indonesia merupakan negara dengan tingkat kerawanan bencana yang sangat tinggi akibat kondisi geologis, geografis, dan klimatologisnya. Selama ini, menurutnya, penanganan kebencanaan cenderung didominasi oleh pendekatan teknokratis dan berbasis respons darurat. Namun, pengalaman empiris menunjukkan bahwa banyak komunitas lokal di Indonesia memiliki kemampuan adaptif yang kuat terhadap bencana melalui sistem budaya dan kearifan lokal yang berkembang secara turun-temurun.

“Pulau Sumatera dalam beberapa dekade terakhir mengalami peningkatan signifikan kejadian bencana ekologis berupa banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Bencana-bencana tersebut tidak dapat dipahami semata sebagai peristiwa alam, melainkan sebagai manifestasi dari degradasi Daerah Aliran Sungai (DAS), perubahan iklim, serta paradigma pembangunan yang belum sepenuhnya memperhitungkan daya dukung lingkungan,” ungkap Tito Latif Indra.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tito juga mengkaji peran budaya Indonesia dalam membentuk ketangguhan masyarakat terhadap bencana, serta bagaimana kearifan lokal dapat berkontribusi dalam upaya pengurangan risiko bencana. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif berbasis kajian literatur dan studi kasus, ia menunjukkan bahwa budaya tidak hanya berfungsi sebagai identitas sosial, tetapi juga sebagai sistem pengetahuan dan mekanisme mitigasi bencana yang efektif.

“Integrasi antara ilmu kebencanaan modern dan kearifan lokal menjadi kunci dalam membangun sistem kebencanaan yang berkelanjutan dan kontekstual di Indonesia,” jelasnya.

Setelah orasi budaya Tito, arsitek Yori Antar bercerita tentang kiprahnya dalam melestarikan arsitektur tradisional Indonesia, termasuk tentang Uma Nusantara, yaitu yayasan yang ia dirikan untuk fokus pada upaya penyelamatan dan pembangunan kembali rumah-rumah adat yang hampir punah di berbagai pelosok Indonesia.

Tinggalkan Balasan