Mendesak, Tata Ulang Relasi Manusia-Alam

“Melalui Uma Nusantara, kami menginisiasi konsep ‘Rumah Asuh’, di mana arsitek modern dan donatur bekerja sama dengan masyarakat lokal untuk membangun kembali rumah adat menggunakan teknik tradisional agar pengetahuan lokal tidak hilang,” ujar Yori dalam paparannya. Yori juga menekankan pentingnya mempertahankan identitas lokal agar arsitektur tradisional tidak punah di tengah modernitas.

Pada bagian lain, Ketua Komoenitas Makara Fitra Manan menegaskan kemendesakan penataan ulang relasi antara manusia dengan alam. Satu di antaranya dengan pembangunan berbasis kearifan lokal. “Menata ulang relasi antara manusia dan alam menjadi semakin mendesak, di mana rumah adat Nusantara hadir sebagai solusi konkret berbasis kearifan lokal. Lebih dari sekadar hunian fisik, arsitektur tradisional Indonesia mencerminkan filosofi hidup berkelanjutan yang memuliakan ekosistem sekitar melalui penggunaan material alam dan struktur adaptif bencana,” tuturnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Selain para narasumber, Majelis Nyala Purnama kali ini juga dimeriahkan oleh musisi Dima Miranda yang membawakan lagu-lagu baladadan. Selain itu, ada kelompok musikalisasi puisi Swara SeadaNya yang juga tampil setelah sesi paparan narasumber dengan membawakan komposisi musik “Kala Sang Surya Tenggelam” karya Guruh Soekarnoputra yang digabungkan dengan puisi karya Ayie Suminar.

Di sesi terakhir, Dr. Turita Indah Setyani dari Urban Spiritual Indonesia memimpin meditasi di bawah sinar bulan purnama sambil membawa harapan semoga di tahun yang baru ini kita semua dapat meraih kualitas hidup yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan