Barang siapa yang berkurban, maka kelak di akhirat, ketika tiba di tanah Mahsyar, ia akan menunggangi hewan kurbannya itu. Hewan kurban itu akan berjalan membelah lautan orang-orang yang berdesak-desakan dalam kecemasan. Melintasi lautan peluh dan angin api. Berjalan cepat di atas sirat hingga mengantarkan tuannya ke halaman surga.
Itulah ucapan Kiai Hasan yang memantik api semangat di hati Rasat untuk bisa berkurban. Meski dirinya hidup dalam keterbatasan ekonomi, niatnya untuk berkurban terus berkobar. Ia rela memanggang tubuhnya di ladang, mandi hujan sepanjang hari di sawah, semua itu —selain untuk nafkah keluarga— selebihnya akan ditabung untuk membeli hewan kurban.

Sebagai seorang kuli yang berpenghasilan ala kadarnya, tabungannya baru cukup untuk bisa membeli hewan kurban yang bagus setelah kurun waktu dua tahun. Setelah uang tabungannya cukup, ia menjuju pasar hewan untuk membeli kambing yang bagus, sehat, bertanduk, dan giginya sudah tanggal.
“Jadi Mas Rasat benar-benar ingin berkurban?” tanya istrinya dengan suara ramah.
“Iya. Kelak di akhirat, aku ingin menunggang hewan kurban ke surga.”
