Ilmu itu rasional, logis, dapat dinalar, dapat dicerna akal sehat, dan common sense. Jika tak rasional, tak logis, tak dapat dinalar, tak bisa dicerna akal sehat, dan tidak common sense, jelas itu bukan ilmu. Mungkin malah tipu-tipu.
Sayangnya, masyarakat kita ternyata masih suka yang tak rasional, tak logis, tak dapat dinalar, tak bisa dicerna akal sehat, dan tidak common sense. Masyarakat kita akan sering kesengsem dengan keajaiban atau kesaktian, misalnya, dan kemudian berbondong-bondong mencari “ilmu” yang tak rasional itu.

Itulah fakta dari metafakta yang, konon, merupakan temuan dari Mas Bechi, tersangka pencabulan sejumlah santriwati di Pondok Pesantren Shiddiqiyyah Ploso, Jombang, Jawa Timur. Seperti kita tahu, setelah Kamis (7/7) kemarin ribuan polisi mengepung dan menggeledah Pesantren Shiddiqiyyah selama 15 jam, Mas Bechi akhirnya menyerahkan diri untuk menjalani proses hukum. Putra dari KH Muhammad Mukhtar Mukthi ini menjadi tersangka pencabulan dan pemerkosaan terhadap sejumlah santrinya.
Berdasarkan keterangan dari sejumlah korban dan pendamping korban yang beredar di media, modus Mas Bechi dalam mendekati calon korbannya melalui penularan ilmu kesaktiannya, ya metafakta itu.
