Menyoal Ihwal Islam dan Kebebasan

Agenda-agenda kebebasan yang diusung oleh Barat di saat yang sama justru menjadi sarana justifikasi ekspansi kolonialisme mereka. Pada abad ke-19, misalnya, sementara orang Inggris menyebutnya sebagai ‘beban tanggung jawab orang kulit putih’ (white man’s burden), di Prancis dikenal sebagai misi memperadabkan (civilizing mission). Sebagai konsekuensi logis, wilayah-wilayah non-Eropa—yang dalam tesmak mereka masih dipandang primitif—harus diselamatkan. Tidak ayal manakala Prancis menguasai Afrika Utara pada rentang waktu 1830 dan 1962, setelah sebelumnya mengokupasi Mesir dalam waktu yang relatif pendek.

Berdasarkan pengalaman-pengalaman tersebut, maka dapat dipahami mengapa umat Islam mempunyai pandangan bahwa liberalisme erat dengan kolonialisme. Dalam bahasa yang dipakai Akyol, terdapat suatu memori historis yang membuat umat Islam menggandengkan keduanya. Ditambah realitas faktual bahwa sebagian pemikir liberal, kendati tidak semuanya, justru menjadi pendukung praktik-praktik kolonialisasi. Walaupun begitu, terdapat dua hal yang dilupakan oleh umat Islam terkait hal ini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pertama, bahwa para pendahulu kita—Muslim liberal awal—menggunakan konsep yang sama untuk melawan hegemoni Barat. Kedua, mereka juga ingin mengembangkan konsep kebebasan di tanah mereka, semata-mata karena melihat bahwa kebebasan merupakan resep manjur di balik majunya peradaban Barat.

Untuk contoh yang pertama, Akyol menyebut nama Abd al-Rahman al-Jabarti (m. 1822) dan perlawanannya terhadap penjajahan Prancis. Generasi setelahnya, ada Rifa‛a al-Tahtawi (m. 1873) yang mengelaborasi lebih detail konsep hurriyat yang sebelumnya hanya sebagai antonim dari perbudakan. Di tangan al-Tahtawi, terminologi tersebut digunakan untuk kebebasan politik, sipil, hingga ekonomi.

Akyol juga menyebut dua nama Muslim liberal di Turki dan Tunisia, Namık Kemal dan Khayr al-Din. Bagi nama yang pertama, sama sekali tidak ada masalah belajar dari tradisi Barat, untuk kemudian membantu Muslim menemukan konsep yang sama di dalam Islam. Kemal sendiri sangat dipengaruhi oleh filsafat-nya Montesquieu di samping kegemarannya akan tradisi Islam. Ia dan koleganya berhasil mensintesiskan tradisi keislaman dan gagasan kebebasan ala Barat. Sementara itu, Khayr al-Din menilai bahwa kemajuan di Barat disebabkan oleh rasionalitas mereka, suatu hal yang banyak dihindari di dunia Islam.

Dengan kata lain, meskipun ide tersebut berasal dari Barat, namun dunia Muslim telah lama bersinggungan dengannya. Ironisnya, jejak-jejak tersebut masih jauh panggang dari api untuk bisa menjadi pemikiran arus utama. Faktanya, terminologi ‘liberal’ masih menjadi pantangan di kalangan umat Islam.

Di tengah keengganan tersebut, buku ini menemukan signifikansinya. Tidak berlebihan manakala saya ibaratkan gagasan kebebasan di dunia Islam sebagai barang antik di ruang gudang yang terkunci, dan buku inilah sebagai pembukanya.

Data Buku:

Judul : Why, As A Muslim, I Defend Liberty?
Penulis : Mustafa Akyol
ISBN : 978-1-952223-18-1
Penerbit : Cato Institute
Tahun : 2021
Tebal : 201 hlm.

Tinggalkan Balasan