Sebagai solusinya, pemikiran tokoh Islam Indonesia seperti M. Quraish Shihab dalam buku terbarunya, Logika Agama (2023), memberikan jalan tengah. Beliau menekankan bahwa akal dan teknologi adalah karunia Tuhan, namun keduanya harus dibimbing oleh hati dan metodologi keilmuan yang benar. Agama tetap relevan bukan sebagai penentang teknologi, melainkan sebagai penjamin bahwa di tengah kecanggihan mesin, “kemanusiaan” kita tidak hilang.
Begitu pula dengan gagasan Pribumisasi Islam milik Gus Dur yang jika ditarik ke konteks kekinian menjadi “Pribumisasi Digital”. Artinya, kita harus menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan etika lokal ke dalam algoritma. Kita membutuhkan teknolog yang juga memiliki pemahaman teologis yang kuat agar AI yang dikembangkan tidak bebas nilai, melainkan berorientasi pada kemaslahatan publik (mashlahah ammah).

Menuju Teologi Humanis-Digital
Jadi, masihkah agama relevan? Jawabannya, justru di era pasca-manusia inilah agama menjadi jauh lebih relevan sebagai “jangkar moral”. Ketika mesin bisa melakukan segalanya, satu hal yang tidak bisa ia berikan adalah makna (meaning). AI bisa menulis teks doa yang indah, tapi ia tidak bisa merasakan pedihnya penderitaan atau indahnya syukur.
Agama harus bertransformasi dari sekadar institusi formal menjadi “kompas etika” bagi pengembangan teknologi. Kita membutuhkan literasi agama yang bukan sekadar hafal teks, melainkan mampu melakukan kritik terhadap ketidakadilan digital. Era pasca-manusia tidak seharusnya membunuh Tuhan, melainkan menjadi momentum bagi manusia untuk mendefinisikan kembali hubungannya dengan Sang Pencipta melalui cara-cara yang lebih cerdas, etis, dan memanusiakan alam.
Agama tetap relevan selama ia mampu menjawab satu tantangan besar. Memastikan bahwa di masa depan, kita tidak menjadi hamba dari algoritma yang kita ciptakan sendiri, melainkan tetap menjadi hamba Tuhan yang merdeka dan berdaulat atas teknologinya.
