Menyoal Relevansi Demonstrasi dalam Demokrasi

Lepas dari kepentingan perorangan atau kelompok, gerakan aksi massa yang tentu saja tidak selalu murni dari kesadaran akal dan nuraninya untuk menyuarakan suara rakyat, tapi karena embel-embel lain, misalnya dibayar dan semacamnya.

Memang tidak bisa dimungkiri beberapa gerakan dibiayai oleh baik dalam dan luar negeri, baik partai atau mungkin saja oligarki. Tapi selalu ada gerakan yang benar-benar bersuara ‘Benar’ dan bersikap ‘Benar’, atau bahkan perorangan yang memang sadar dan tahu ikut serta di sana mendukung langsung aksi demonstrasi tersebut. Mereka sebenarnya perlu sekali membuat strategi agar lebih terdengar ‘bunyi’ suara mereka, tidak kotor dan tercemar oleh massa lain yang tidak bertanggung jawab.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Gerakan demonstrasi memang bersifat cair, seperti sungai kadang ada limbah yang masuk di situ. Perlu kiranya menjernihkan ‘sungai gerakan itu’ agar demonstrasi benar-benar tidak tercemar oleh dosa kekerasan dan perilaku-perilaku tidak bertanggung jawab lainnya.

Mahasiswa tentu saja harus memikirkan strategi baru dalam berdemonstrasi atau dalam melakukan kritik kebijakan pemerintah yang kurang adil tersebut. Yang harus dipikirkan mahasiswa adalah bagaimana meminimalisasi peluang yang tidak baik dan tidak benar, seperti kekerasan, dan lain-lainnya itu. Atau barangkali perlu diajukan pertanyaan kritis, seperti, apakah demonstrasi satu-satunya jawaban dalam berdemokrasi? Apakah tidak ada alternatif yang lain?

Mahasiswa nampaknya perlu mengurai pertanyaan-pertanyaan itu menjadi pemikiran yang matang, dan kelak menjadi strategi baru untuk menyuarakan kepentingan rakyat banyak. Noam Chomsky telah banyak berbicara soal masalah tersebut, soal gerakan aksi yang tidak lagi relevan, tentang pentingnya komunitas, tentang perlunya alternatif baru, dan seterusnya.

Tinggalkan Balasan