Manusia harus dibiarkan merenung untuk mengikuti kehendak objektif dalam menentukan pilihan. Tanpa ada determine dari legitimasi-legitimasi yang memberatkan suara kebebasan. Sebabnya, manusia selalu memimpikan kredibilitas kebahagiaan yang hingga kini terus tercerabut dari akarnya, yaitu kemanusiaan.
Manusia perlu merenung. Setiap produk renungan, akan menghasilkan dua sudut pandang jamak seperti Tolstoy juga opsir yang tadi saya gambarkan. Tetapi, jika renungan tersebut berusaha untuk mengetengahi setiap persoalan, maka pandangan dan sikap yang hadir sebagai produk melampaui dua sekat tadi.

Sudut pandang yang tidak dipakai Tolstoy dan sang opsir. Dan saya rasa, sudut pandang objektif murni akan hadir ketika setiap manusia mencapai final destination From. Di tengah gemuruh pilihan politik, misalnya, produk renungan, meski saya tidak tahu apakah masih ada atau tidak, akan berangsur-angsur surut. Hasilnya, pilihan tidak lahir dari kehendak murni manusia.
Lantas apa yang perlu kita lakukan sehingga menjadi manusia seutuhnya? Saya rasa, di tengah dominasi dan legitimasi yang terus mendesak-desak, kita perlu membuat gerakan imajinatif-alternatif yang tak terlalu ekstrem seperti gerakan “pembangkangan lunak” golput Arif Budiman di masa lulu. Saya rasa, harus ada pembaharuan. Terutama oleh khalayak anak muda. Apa itu? Mari kita renungkan bersama.
