Monolog Tari

Kenalkan, namaku Tari. Aku seekor gajah sumatra betina berusia dua puluh tahun lebih seminggu. Aku tinggal di hutan yang dulunya tak pernah sepi dari suara kicau burung dan sahutan hewan-hewan liar. Tapi itu dulu, sebelum manusia-manusia sombong dan serakah itu menghancurkan sebagian habitat kami. Dan, tentu saja, mereka jugalah yang mejadi penyebab bencana alam yang sangat mengerikan beberapa hari lalu. Entah mengapa, tak ada sedikitpun ruang di hatiku untuk tidak menyalahkan para manusia yang sok mulia itu. Karena yang menanggung akibatnya bukan hanya manusia lainnya, tapi juga kami sebagai penghuni hutan asli.

Bencana banjir kemarin bukan hanya menggusur rumah-rumah manusia. Tapi juga menggusur rumah kami. Keluarga kami. Teman-teman kami. Bahkan, sebelum benacana banjir itu terjadi, pun banyak teman-temanku yang merasa kehilangan tempat tinggal.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kemarin lusa, Pak Mahout (sebutan untuk pawang gajah) bercerita tentang teman kami yang ditemukan tewas terbawa arus banjir. Sebuah kabar buruk yang menyakitkan. Namun lebih menyakitkan ketika ia mengatakan belum bisa menemukan sepupuku yang masih bayi. Aku masih ingat jelas, bulan lalu aku dan sekeluarga mengundang seluruh kerabat gajah untuk menyambut kehadiran anggota baru kami. Mengingat spesies kami yang sudah hampir punah, maka kelahiran anggota baru merupakan suatu kebahagiaan tak terkira. Dan kini dia hilang. Entah dia masih terombang ambing terbawa arus, terjepit gundukan kayu, atau tertimbun lumpur. Entahlah… terlalu menyakitkan untuk dibayangkan.

Ini adalah bencana alam kedua yang kualami semenjak aku lahir ke dunia. Beberapa tahun lalu, air laut juga pernah mengamuk tanpa ampun. Menelan semua yang disentuhnya. Aku yang waktu itu masih kecil termasuk salah satu yang selamat dari keganasan air laut yang mendadak murka. Padahal, aku masih sangat ingat jelas bagaimana tsunami itu merenggut nyawa seekor gajah jantan tua renta yang berusaha mengamankan anaknya. Ia sempat menaikkan anaknya ke atas pohon besar dengan belalai panjangnya. Ia sendiri membiarkan tubuhnya hanyut terbawa arus. Tak berusaha berenang untuk menyelamatkan diri. Pasrah begitu saja. Seolah ia berkata, “Yang penting anakku selamat.”

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan