Yang Melahirkan Peradaban, yang Masih Menjadi Korban

Belakangan ini jagat maya kembali ramai membicarakan soal perempuan. Bukan karena perayaan atau capaian intelektual, melainkan karena kabar kekerasan yang menimpa seorang mahasiswi di Riau.

Di tengah riuh media sosial yang mengulang slogan “perempuan melahirkan peradaban”, publik justru dihadapkan pada ironi: mereka yang menjadi rahim peradaban itu masih kerap menjadi korban dari peradaban itu sendiri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kasus tersebut bukan sekadar peristiwa kriminal. Ia adalah cermin retak dari cara kita memandang perempuan—antara pujian simbolik dan perlindungan yang sering kali absen. Di ruang-ruang digital, perempuan dielu-elukan sebagai tiang bangsa. Namun di ruang-ruang sosial yang nyata, mereka masih rentan menjadi objek kekerasan, bahkan oleh orang yang mengatasnamakan cinta.

Di titik inilah kita perlu berhenti sejenak. Apakah benar peradaban yang kita banggakan telah sungguh-sungguh berdiri di atas penghormatan terhadap perempuan? Ataukah kita hanya pandai mengutip kalimat indah tanpa menghadirkan keadilan dalam praktiknya?

Fikih dan Prinsip Menjaga Jiwa

Dalam khazanah fikih, menjaga jiwa (if al-nafs) adalah salah satu tujuan utama syariat. Teori maqāid al-syarī‘ah yang dirumuskan para ulama menempatkan perlindungan terhadap kehidupan sebagai prioritas mendasar. Kekerasan terhadap siapa pun—terlebih perempuan—jelas bertentangan dengan prinsip ini.

Lebih jauh lagi, syariat juga menekankan if al-‘ird (menjaga kehormatan) dan if al-nasl (menjaga keturunan). Perempuan tidak hanya diposisikan sebagai individu yang harus dihormati, tetapi juga sebagai pusat regenerasi sosial. Maka setiap bentuk kekerasan terhadap perempuan bukan sekadar pelanggaran hukum positif, melainkan pengkhianatan terhadap tujuan luhur syariat itu sendiri.

Ironisnya, kekerasan kerap dibungkus dengan dalih emosi: cemburu, harga diri, atau cinta yang berlebihan. Padahal dalam perspektif fikih, emosi tidak pernah menjadi legitimasi untuk melukai. Cinta yang melahirkan kekerasan bukanlah cinta, melainkan kepemilikan yang salah arah.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan