Kondisi ini menunjukkan, mudik adalah aktivitas yang memiliki kedalaman makna begitu agung. Mudik bukan sebatas untuk self healing, akan tetapi bernilai sebagai self purification (pemurnian diri). Maksudnya, melaksanakan mudik pada gilirannnya dapat menghapus dosa dan kesalahan yang dimiliki pemudik.
Pelaksanaan mudik terikat pada konteks perayaan Idul Fitri. Alasan dipilihnya Idul Fitri sebagai momentum mudik, karena terdapat keterkaitan linier antara Idul Fitri dan mudik itu sendiri. Idul Fitri berarti kembali ke fitrah (kembali suci) setelah sebelumnya menjalankan puasa sebulan penuh dengan motivasi menyucikan diri dari dosa vertikal kita terhadap Tuhan. Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an,

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183). Takwa dalam ayat ini tergambar sebagai simbol penyucian vertikal. Bagaimana mungkin Allah tidak menghapus dosa-dosa hambanya, jika ia sangat taat mengerjakan apa yang diperintah, termasuk berpuasa, dan meninggalkan segala apa yang dilarang-Nya?
Hal ini juga diperkuat banyak Hadits Nabi Saw yang menyebutkan, Allah memberikan kemurahan berupa pembersihan dosa-dosa. Salah satu bunyi Hadits-nya, Nabi Saw bersabda, “Barangsiapa beribadah (menghidupkan puasa) bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari-Muslim). Dalam hadits lain juga disabdakan, selama tidak melakukan dosa besar, jarak puasa Ramadhan ke Ramadan berikutnya merupakan penebus dosa-dosa yang ada dalam diri.
Sementara itu, serentak pada saat Idul Fitri, kita dianjurkan untuk bersilaturahmi untuk saling bermaafan. Silaturahmi menjadi kegiatan rutin yang lestari bergandengan pada perayaan Lebaran. Beberapa daerah melakukan ritual sungkeman ke orang tua, tetangga, dan sanak saudara. Silaturahmi, karenanya, tergambar sebagai simbol penyucian horizontal. Idul Fitri menyelaraskan hubungan untuk saling kunjung, menyapa, hingga saling memaafkan.
