MUSIM TIDAK LAGI PULANG

SUBUH BERSAMA TUNGKU

Sebelum aku bangun
Mamak sudah dipojok dapur
Dipilahnya satu persatu
Tangan melebur, sudah siap menanak

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ditiup perlahan agar hidup
Perih barangkali sudah biasa
Tak seorangpun menggantikan
Putih semurni pengorbanannya

Aku dibangunkan fajar menyambut
Dibersamai untuk bermunajat
Dengan lantunan khas jawanya
“Mugi tole dadi wong apik bhesok”

MUSIM TIDAK LAGI PULANG

Padi yang sempat hijau
Eskavator mengunyah pagi
Nuri paruh coklat migrasi ke tiang listrik
Bau anyir sungai halaman rumahku
“Apa betul hutan seluas cerita kakek”

Biung bergeming
Angin meliak-liuk menyisir batang tumbang
Tiba gelap gulita
Mendung singgah sebentar di pelataran rumah
Di sudut kafe pohon plastik terpajang
Sementara rusa menabrak jalan
Tempat tidurnya jadi jalan aspal

TANGISAN PERTAMA

“Aku belum keluar saat ini”
Namun, manusia tak paham
Bahasa pertama aku hidup
Dalam gundahnya
Bertanya diam-diam
Mengapa aku dilahirkan?

Di antara berita menyeramkan
Waktu berjalan begitu cepat
Aku dipaksa dewasa
Sebelum sempat menikmati masa kanak-kanak

Sementara dunia terus berputar
Meninggalkan mereka yang ingin tumbuh
Aku ingin berkata sekali lagi
“Aku belum siap dewasa”

Tinggalkan Balasan