Nalar

Romo Mangun dengan gamblang dan berani menyatakan bahwa sistem pendidikan kita sering terjebak dalam watak “penjinakan” (domestikasi). Pendidikan kita tidak sungguh-sungguh dirancang untuk memerdekakan manusia dari belenggu kebodohan dan ketakutan, melainkan lebih berorientasi untuk mencipta manusia-manusia penurut yang siap menjadi sekrup patuh dalam mesin raksasa birokrasi dan roda industri. Anak-anak yang memiliki percikan nalar kritis, yang berani mempertanyakan tatanan dan dogma yang usang, dengan cepat dipangkas ibarat rumput liar agar terlihat seragam dengan yang lain.

Lebih jauh lagi, Roem Topatimasang dalam bukunya Sekolah Itu Candu menyoroti kejanggalan yang serupa. Institusi modern sering kali merampas monopoli kebenaran dan pada akhirnya mematikan nalar kritis demi mempertahankan status quo para pemegang kendali. Ketika anak mulai membuka matanya, menyadari ada sesuatu yang salah, tidak adil, atau janggal dengan sistem di sekitarnya, dan ia berani menyuarakannya, sistem tersebut akan bereaksi secara defensif dengan menghukumnya. Hukuman ini sejatinya adalah mekanisme pertahanan diri yang primitif dari sebuah otoritas yang enggan untuk berbenah diri dan teramat takut kehilangan kekuasaannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tragedi pembungkaman ini sayangnya tidak hanya terjadi di ruang-ruang kelas formal, tetapi juga merayap masuk secara perlahan ke dalam ruang keluarga yang paling intim. Orang tuan pada umumnya sangat mendambakan anak yang sangat cerdas. Kita merasa sangat bangga jika anak kita bisa membaca saat usia dini, mampu menganalisis masalah teknis dengan cepat, atau fasih menghafal berbagai fakta sejarah dan sains.

Namun, ketika kecerdasan rasional itu mewujud dalam pertanyaan kritis tentang ketidakkonsistenan aturan rumah, tentang ketidakadilan perlakuan sehari-hari, atau tentang nilai-nilai dogmatis yang selama ini mereka terima begitu saja, kepanikan mendadak menyerang orang dewasa.

“Anak durhaka!”, “Kualat kamu berani menjawab orang tua”, adalah tameng-tameng verbal yang dengan cepat dilemparkan saat orang dewasa kehabisan amunisi argumen yang rasional. Kita seolah terserang amnesia bahwa kemampuan anak dalam menganalisis aturan adalah buah manis dari pikiran yang kita tanam dan pupuk sendiri. Kita secara sadar menanam bibit pohon beringin yang besar, namun kita marah besar ketika akarnya yang tumbuh kuat mulai menjebol pot keramik kesayangan kita yang terlampau sempit.

Ketidakmampuan orang dewasa—baik itu guru di sekolah maupun orang tua di rumah—dalam merespons dan mengelola kemerdekaan berpikir anak ini dasarnya berakar dalam pada ego dan rasa tidak aman (insecurity). Menjawab pertanyaan kritis dari seorang anak menuntut komitmen energi, kesabaran yang sangat lapang, dan yang paling menakutkan bagi ego orang dewasa: pengakuan jujur bahwa mereka mungkin tidak tahu segalanya, atau bahkan pengakuan bahwa selama ini mereka mungkin telah berbuat salah. Membungkam mulut anak dengan menggunakan dalil otoritas kekuasaan jauh lebih mudah, cepat, dan efisien daripada harus duduk sejajar bersama mereka dan membedah suatu argumen secara logis dan objektif.

Dampak jangka panjang dari kontradiksi pendidikan semacam ini sangatlah destruktif bagi masa depan sebuah peradaban dan bangsa. Ketika anak-anak secara sistematis dihukum karena mereka berpikir, mereka pada akhirnya akan belajar untuk beradaptasi dengan cara mematikan nalar mereka sendiri demi bertahan hidup dan diterima oleh lingkungan sosialnya. Mereka akan perlahan bermutasi menjadi generasi pembebek yang hanya fasih mengangguk tunduk di hadapan atasan demi mengamankan posisi. Mereka akan kehilangan api keberanian untuk berinovasi, merancang kreasi baru, dan menantang ketidakadilan sosial. Mereka mungkin akan menjadi individu yang sangat pintar dalam menjawab soal-soal pilihan ganda di atas kertas ujian nasional, tetapi mereka akan sepenuhnya gagap dan lumpuh ketika dihadapkan pada kompleksitas persoalan hidup nyata yang sama sekali tidak memiliki panduan kunci jawaban di bagian belakang buku.

Jika kita sungguh-sungguh jujur dan bertekad ingin mengajarkan anak-anak kita untuk berpikir, kita harus berani bersiap menghadapi segala konsekuensinya. Kita, sebagai pihak yang merasa lebih dewasa, harus berani melucuti ego dan atribut kebesaran pangkat kita di hadapan mereka. Kita harus siap ditelanjangi secara intelektual oleh pertanyaan-pertanyaan yang terdengar begitu lugu namun sebenarnya menghunus sangat tajam.

Tinggalkan Balasan