“Nah, itu, aku setuju,” perempuan satu-satunya di kafe itu, yang sedari tadi membisu, dengan membelai-belai rambutnya, buka suara. “Kita tak boleh lari atau tak peduli. Jangan biarkan negeri ini menjadi negeri nepo. Surganya kaum nepotisme. Setidaknya kita bisa melawan dengan puisi!”
“Ha-ha-ha, dia benar. Aku jadi teringat Si Burung Merak. Jika hari ini dia masih hidup, kita pasti sudah diledek sebagai penyair salon.”

“Nah, di zaman edan seperti ini, kita harus menjadi ahli warisnya Si Burung Merak. Jangan malah menjadi penyair salon yang dibencinya. Jangan biarkan mahasiswa bergerak tanpa puisi.”
Mereka akhirnya melihat tokoh kita berjalan memutar, mengelilingi kafe itu, sambil meneriakkan sepotong sajak yang masih tertulis di benak, meniru gaya bersajak Si Burung Merak:
Wahai para penyair salon
Lemparkan selimutmu ke tong sampah
Bakar kasurmu, robohkan ranjangmu
Tinggalkan rumahmu
Kosongkan istanamu
Turunlah ke jalanan
Saatnya persekongkolan dihentikan
Sayup-sayup dari seberang jalan, terdengar sorak dan tepuk tangan. Hanya itu yang terakhir terdengar sebelum cangkir-cangkir kopi mengering. Begitulah pertunjukan tanpa sutradara itu berakhir. Ditelan malam.
