Beliau menuturkan bahwa Pancasila harus disajikan melalui metode-metode yang kekinian. Penggunaan sarana teknologi informasi menjadi salah satu media yang ampuh untuk menyebarkan pemahaman mengenai Pancasila. Hal ini sangat beralasan, karena subjek yang dihadapi kebanyakan adalah kaum millenial. Dengan langkah metode yang tepat, Pancasila diharapkan bisa menjadi sebuah praktik yang riil, yang mana tidak hanya menjadi sebuah pajangan dalam bingkai foto belaka.
Menyikapi hal ini, Dr Mutiullah, Dosen Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, turut memberikan penegasannya. Beliau menilai bahwa bukan waktunya lagi untuk orang-orang berteriak “Saya Pancasila”; “Hidup NKRI”. Karena, yang dibutuhkan bangsa ini adalah bentuk pengabdian serta pengamalan dari setiap warga negara untuk menjadikan Pancasila sebagai landasan kehidupan dalam bernegara.

Menurut penulis, Pancasila merupakan sebuah perwujudan cita-cita bangsa secara luas. Pancasila menjadi jembatan sekaligus wadah bagi pluralitas yang dimiliki bangsa Indonesia untuk bersatu-padu dalam merealisasikan tujuan luhur para founding fathers. Dalam konteks keislaman, sebagai umat muslim hendaknya tetap memegang teguh nilai-nilai keislaman yang telah digariskan dalam al-Quran maupun yang telah direalisasikan Nabi Muhammad SAW dalam membangun peradaban yang mengutamakan kemaslahatan dan nilai kebaikan.
Wallahu A’lam bi as Showaab.
