Gerakan separatis PKI, DI/TII adalah gerakan fundamental di awal-awal kemerdekaan. Sementara itu, akhir-akhir ini, “ujian” terhadap Pancasila masih saja ada dan menjadi tantangan dan kesulitan tersendiri. Seperti pemaksaan paham pemerintahan Khilafah yang ingin mengganti sistem republik menjadi sistem khilafah. Begitu juga dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), juga berusaha untuk mengganti dasar negara Pancasila dengan paham lain yang tidak mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Tentu gerakan-gerakan semacam ini harus diwaspadai agar ke depan Pancasila tetap dalam semangat persatuan dan kesatuan di bumi yang penuh dengan ragam perbedaan.
Peradaban dan Pancasila

Di dalam wikipedia dijelaskan, peradaban sering digunakan sebagai istilah lain “kebudayaan” di kalangan akademisi. Dalam pengertian umum, peradaban adalah istilah deskriptif yang relatif dan kompleks untuk pertanian dan budaya kota. Hal ini karena peradaban awal terbentuk ketika orang mulai berkumpul di pemukiman perkotaan di berbagai belahan dunia. Peradaban dapat dibedakan dari budaya lain oleh kompleksitas dan organisasi sosial serta keragaman kegiatan ekonomi dan budaya.
Awalnya, para antropolog dan ahli lainnya menggunakan kata “peradaban” dan “masyarakat beradab” untuk membedakan masyarakat yang mereka anggap lebih unggul secara budaya dengan kelompok masyarakat lain yang dianggap inferior secara budaya (disebut juga “liar” atau “barbar”). Penggunaan istilah “peradaban” secara etnosentris memunculkan anggapan bahwa masyarakat di sebuah peradaban sosial memiliki moral yang baik dan budaya yang maju, sementara masyarakat lain (non-peradaban) memiliki moral yang buruk dan terbelakang. Sejarah penggunaan istilah ini menjadikan definisi peradaban terus berubah sesuai dengan perkembangannya.
Peradaban di sini dimaksudkan sebagai sebuah kondisi kehidupan yang memiliki sikap etik dan adab. Keberadaan sebuah kelompok sosial masyarakat dalam keadaban dan etika sosial yang mulia adalah tujuan pokok dalam kehidupan itu sendiri. Sehingga nilai-nilai Pancasila diharapkan dapat menjadi dasar perubahan dari sesuatu yang kurang baik menjadi lebih baik. Membangun peradaban dalam kehidupan sosial merupakan kewajiban setiap elemen bangsa dengan beragam predikat yang dimilikinya.
Nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila sangat niscaya untuk membangun peradaban dunia dengan jiwa humanis. Karena hakikat dari keberadaban adalah bagaimana kita membangun bangsa dengan cara-cara bijak dan arif. Di dalam Pancasila, 5 sila yang termaktub di dalamnya, memberikan arah kebijakan yang akan membentuk peradaban yang sesuai dengan jiwa kemanusiaan. Oleh karena itu, tema yang diusung dalam Peringatan Hari Lahir Pancasila kali ini, “Bangkit Bersama Membangun Peradaban Dunia” adalah sebuah harapan untuk menjadi saksi sejarah dalam membangun peradaban dunia.
Demikian catatan kecil terkait dengan Peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2022. Dengan harapan semoga menjadi momentum untuk menjadi penggerak peradaban dalam kemaslahatan kemanusiaan. Karena puncak dari semua kehidupan adalah kebahagiaan dalam bangunan negara yang bersatu untuk membangun peradaban dunia yang semestinya. Wallahu A’lam!
