Perempuan dalam Sapaan Agama

Hal yang sama juga terlihat dalam narasi Al-Qur’an saat menceritakan sosok Maryam. Ia tidak hanya hadir sebagai sosok ibu Nabi Isa, tetapi juga sebagai sosok yang menjalani ujian dan memiliki perjalanan spiritual sendiri.

Contoh lain, istri Fir’au bahkan dihadirkan sebagai teladan bagi orang-orang yang beriman, meskipun hidup di tengah kekuasaan yang menentang keimanan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kisah-kisah tersebut memperlihatkan bahwa nilai seseorang dalam agama tidak semata-mata ditentukan oleh relasinya sebagai laki-laki atau peran sosialnya.

Persoalannya, cara kita menyampaikan agama terkadang justru mempersempit ruang tersebut. Perempuan lebih sering dinasihati tentang bagaimana harus berpakaian, bergaul, menjadi istri, atau menjaga kehormatan. Sementara pengalaman intelektual dan sosialnya kurang mendapatkan tempat.

Bukan berarti aturan-aturan tersebut tidak penting. Yang perlu dipersoalkan adalah ketika perempuan hanya dikenali melalui aturan yang ditujukan kepadanya. Padahal, ia juga seorang pencari ilmu, pembaca, pemikir, guru, penulis, dan bagian dari masyarakat.

Cara pandang ini juga penting ketika kita membaca fikih tantang perempuan. Para ulama telah membahas perempuan dalam berbagai persoalan, mulai dari ibadah hingga keluarga dan kehidupan sosial.

Tinggalkan Balasan