Meski dalam sejumlah kasus mayoritas perempuan adalah korban, akan tetapi, kepekaan yang mereka miliki sebagai korban konflik ataupun kekerasan justru menyebabkan perempuan memiliki dorongan yang lebih kuat untuk menciptakan perdamaian (peace-making) dan membangun perdamaian (peace-building) yang transformatif. Perempuan lebih sensitif dalam menilai potensi dominasi untuk “menyusupkan” misi-misi perdamaian.
Kapasitas perempuan dalam mendorong perdamaian setidaknya di tingkat akar rumput sudah terbukti di banyak kasus konflik. Gerakan perempuan berhasil membangun koalisi lintas kelompok sewaktu konflik berlangsung dan memberi kontribusi bagi mudahnya implementasi perdamaian saat kesepakatan dicapai para pihak.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Peace Institute antara tahun 1989 hingga 2011 terhadap 182 persetujuan damai yang telah disepakati, menemukan bahwa apabila perempuan dilibatkan dalam proses perdamaian, maka peluang persetujuan damai untuk bertahan selama 15 tahun atau lebih meningkat sebesar 35 persen.
Bukan hanya itu, dalam buku Merayakan Ibu Bangsa terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, saya menemukan kutipan yang menarik dari hasil wawancara penulis dengan Aleta Baun. Aleta Baun adalah pejuang perempuan untuk kedaulatan tanah air di Mollo. Ketika ditanya apa hal penting yang harus ditekankan dalam perjuangan generasi ke depan, Alleta menjawab ada dua hal yang harus ditekankan, yakni pengetahuan yang kembali ke alam dan pengetahuan perempuan.
Ia menyebutkan bahwa pengetahuan manusia semuanya berawal dari alam. Banyak pengetahuan yang kita lupakan berkaitan dengan alam. Orang sibuk berlomba mencari gelar, namun lupa dengan pengetahuan-pengetahuan di kampung tentang bagaimana hubungan manusia dan bumi.
