Matahari Bersinar dan Sembilan Bintang

# Dua Tegangan Negosiasi Islam dengan Sastra Indonesia

Di layar sastra Indonesia modern, Islam hadir sejak masa-masa pembentukan identitas sastra Indonesia modern itu sendiri di awal abad ke-20, dan terus hadir secara signifikan dalam episode-episode sejarah berikutnya. Namun hubungan keduanya nyaris tak pernah tenang. Berbagai tegangan tak terhindarkan, yang untuk sebagian diakibatkan oleh perbedaan visi, ideologi, dan heterogenitas orientasi budaya yang dinamis di rumah kebudayaan Indonesia sendiri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di titik tegang itulah Islam dan sastra Indonesia terus bernegosiasi, melakukan tawar-menawar budaya, saling merespons dan mengambil sikap: bagaimana Islam mengakomodasi sastra Indonesia, dan sebaliknya, bagaimana sastra Indonesia menerima Islam di pangkuannya? Bagaimana Islam bisa menjadi keluarga-inti sastra Indonesia dan berkontribusi pada sastra Indonesia itu sendiri, dan sebaliknya, bagaimana sastra Indonesia bisa menjadi keluarga-inti Islam dan berkontribusi pada Islam itu sendiri?

Tetapi ironi segera tampak: sebuah ilusi sejarah. Meskipun secara historis Islam tampil sejak masa-masa awal pembentukan identitas sastra Indonesia, Islam seakan tak terlihat dalam pembacaan sejarah sastra Indonesia itu sendiri. Pada hemat saya, ini adalah ilusi sejarah, dan ini bukan problem ontologis, melainkan problem metodologis. Yakni, bahwa historiografi dan teori sastra kita tak memiliki perangkat memadai untuk melihat Islam di dalam gedung sastra Indonesia, sejak masa-masa pembangunannya hingga berdiri dengan identitasnya sendiri. Historiografi dan teori sastra kita tak memiliki sensitivitas untuk itu, tak memiliki kaca pembesar untuk memeriksanya. Dengan kata lain, sastra Indonesia bukan sepi dari Islam, melainkan karena kita tak punya cukup alat dan kepekaan untuk melihatnya. Inilah satu segi yang terabaikan dalam sastra Indonesia modern.

Untuk memahami lanskap ini secara mendalam, kita perlu mengajukan serangkaian pertanyaan krusial: Bagaimana sebenarnya dinamika historis hubungan Islam dan sastra Indonesia modern? Apa yang mereka negosiasikan, dan bagaimana negosiasi itu dijalankan, baik secara internal maupun eksternal, dan seberapa mahal ongkos yang mereka bayarkan hingga mencapai integrasi kultural antara keduanya? Lebih jauh lagi, apa implikasi kontributif Islam pada sastra Indonesia, dan sebaliknya pula, apa kontribusi sastra modern pada Islam Indonesia?

Esai ini akan mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan menggali akar-akar genealogi sastra di tubuh Islam Indonesia sendiri, serta melacak bagaimana akar genealogis itu bertransformasi di tengah negosiasi kultural yang cukup keras, yang berlangsung secara luas di tanah air.

Melalui penelusuran secara historis, tampak terutama dua tipologi negosiasi antara Islam dan sastra Indonesia modern yang berjalan sangat dinamis dan mewarnai sejarah kebudayaan kita. Tipologi pertama memperlihatkan pola integrasi kultural Islam ke dalam modernisme sastra Indonesia yang berlangsung sejak awal, atau sebaliknya: integrasi sastra Indonesia modern ke dalam tubuh modernisme Islam itu sendiri. Kelompok ini sejak mula tidak canggung mengadopsi bentuk-bentuk ekspresi modern karena melihat adanya kesamaan visi kebudayaan.

Tipologi pertama ini secara historis diwakili oleh Muhammadiyah, persyarikatan Islam berlambang matahari bersinar, yang melahirkan ruang temu antara purifikasi keagamaan, rasionalitas, dan adopsi instrumen-instrumen modern, termasuk sastra sebagai media dakwah serta pencerahan umat. Di sini, Islam dan sastra modern —meminjam Amir Hamzah— bertukar tangkap.

Sementara itu, tipologi kedua bergerak dari pola resistensi kultural Islam terhadap sastra Indonesia modern ke integrasi gradual, lalu ke identitas kultural. Meskipun tarik-tambang resistensi ini cukup alot, bagaimanapun ia tidak permanen. Seiring berjalannya waktu, kelompok ini perlahan-lahan mentransformasi diri, bernegosiasi secara internal, untuk akhirnya menerima sastra Indonesia modern sebagai bagian yang sah dari khazanah Islam itu sendiri.

Tipologi kedua ini diwakili oleh Nahdlatul Ulama (NU), jam’iyyah berlambang sembilan bintang, yang berpijak kuat pada tradisi dan berhati-hati dalam mengadopsi modernitas. Melalui jalur ini, ketegangan awal dengan institusi modern kolonial perlahan-lahan dijinakkan dan diintegrasikan ke dalam kekayaan tradisi lokal dan spiritualitas pesantren, hingga melahirkan sebuah ekosistem sastra yang berakar kuat sekaligus kontemporer. Di sini, Islam dan sastra modern —sekali lagi meminjam Amir Hamzah— bertukar tangkap dengan lepas.

Perlu ditegaskan bahwa Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama di sini tidak dilihat secara formal dan institusional, tidak pula sebagai organisasi keagamaan, melainkan sebagai sebuah representasi kultural dan epistemik, sebuah lingkungan budaya dengan corak keagamaan yang berbeda namun saling mengisi. Artinya, fokus esai ini bukanlah pada dinamika politik organisasi, struktur kepengurusan, atau fatwa-fatwa resmi kelembagaan mereka. Kita melihat keduanya sebagai dua payung kebudayaan besar yang masing-masing membawa habitus, alam pikiran, lingkungan sosial-budaya, dan cara pandang-dunia yang khas dalam merespons deru modernitas.

Melalui lensa kultural ini, Muhammadiyah ditempatkan sebagai jangkar dari etos modernisme Islam yang rasional dan purifikatif, sedangkan Nahdlatul Ulama dibaca sebagai ekosistem kebudayaan berbasis tradisionalisme pesantren yang kaya akan kelenturan lokal dan spiritualitas sufistik. Dengan memandang keduanya sebagai lokomotif kultural, kita dapat melacak bagaimana sastra Indonesia dinegosiasikan dan dihidupi oleh para pengarang di dalam bentangan pengaruh kedua arus besar tersebut.

Seperti yang akan ditunjukkan nanti, dua tipologi besar ini merupakan dua jalur berbeda dalam peta hubungan historis antara Islam dan sastra Indonesia modern. Masing-masing jalur membawa corak, karakter estetika, serta implikasi sosiologis yang berbeda: yang satu bergerak melalui akselerasi modernisme dan rasionalitas ideologis, sementara yang lain menempuh jalan spiritualitas tradisi dan negosiasi kultural yang berbasis komunitas. Kendati bertolak dari strategi kebudayaan yang berlainan dan bahkan sempat saling berkompetisi, kedua arus besar ini tidak berjalan untuk saling menegasikan. Sebaliknya, secara bersama-sama, dialog dan ketegangan kreatif di antara keduanya justru berhasil membentuk arsitektur hubungan Islam dan sastra Indonesia yang hidup, dinamis, dan terus relevan dalam menopang kebudayaan nasional kita hingga hari ini.

Garis Besar Dua Tipologi

Untuk mempermudah melihat perbedaan corak, genealogi, karakter, dan implikasi dari kedua gerbong besar Islam Indonesia ini, berikut adalah tabel komparatif berdasarkan analisis kultural keduanya.

Bagan tersebut memperlihatkan bahwa kedua tipologi ini merupakan dua strategi kebudayaan yang unik. Setelah melewati masa-masa penuh ketegangan, Muhammadiyah bergerak cepat melakukan ijtihad estetika yang melahirkan konseptualisasi teoretis (Sastra Profetik dan Sufistik). Sementara, Nahdlatul Ulama bergerak secara masif di akar rumput hingga berhasil mempribumikan sastra modern menjadi sebuah identitas kultural baru bernama “sastra pesantren”. Peta makro ini menjadi pemandu kita untuk masuk ke bagian selanjutnya yang akan mengelaborasi kedua tipologi ini secara lebih luas.

Dalam diskursus sosiologi agama kontemporer, pembagian dikotomis antara tipologi modernisme Islam (Muhammadiyah) dan tradisionalisme Islam (Nahdlatul Ulama) sering kali dikritik, dianggap rapuh, bahkan dinilai tidak relevan lagi jika dihadapkan pada perkembangan corak atau dinamika gerakan keagamaan kedua organisasi hari ini yang kian cair dan saling menyilang. Namun, dalam esai ini, penggunaan kedua tipologi tersebut masih sangat relevan dan memiliki validitas analitis yang kuat, terutama ketika kita menggunakannya sebagai pisau bedah untuk membaca lanskap sejarah pada paruh pertama abad ke-20.

Pada masa-masa formatif kelahiran sastra Indonesia modern itulah, batas-batas epistemologis, ketegangan psikologis, dan orientasi kultural antara arus modernisme dan tradisionalisme tampil begitu kontras dan nyata. Dengan meletakkan kedua tipologi ini dalam konteks historis abad ke-20, kita tidak sedang menyederhanakan realitas masa kini, melainkan sedang melacak arsitektur awal dan cetak biru genealogis yang membentuk bagaimana “iman” dan “estetika” pertama kali berdialog di panggung kebudayaan nasional.

Tentu saja, hubungan Islam dan sastra Indonesia modern tidak sepenuhnya dapat direduksi ke dalam dua tipologi yang dibahas dalam esai ini. Di luar modernisme Muhammadiyah dan tradisionalisme Nahdlatul Ulama, setidaknya terdapat tiga jalur kultural lain yang juga penting. Pertama, “Islam Melayu” yang membentuk religiusitas puitik Amir Hamzah dan Sutardji Calzoum Bachri. Kedua, “Islam Jawa” yang melahirkan identitas budaya sinkretis naratif Umar Kayam dan mistisisme estetik Danarto. Ketiga, Islam perkotaan yang pada akhir abad ke-20 memunculkan Forum Lingkar Pena (FLP) dan jaringan sastra Islam populer (dengan tokoh seperti Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia). Ketiga jalur ini tidak hanya melengkapi, tetapi juga memperluas cakrawala keberagaman ekspresi keislaman dalam sastra tanah air. Dengan demikian, wajah sastra Islam Indonesia sesungguhnya jauh lebih kompleks dari sekadar pertarungan dua kubu besar yang kita diskusikan di sini. Namun tiga jalur kultural ini—dan jalur lain yang mungkin terluput—berada di luar lingkup esai ini.

Bagaimanapun, sebagai dua arus besar Islam Indonesia yang memiliki basis sosial, kelembagaan, dan pengaruh kultural paling luas terhadap pembentukan lanskap sastra Indonesia modern, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama tetap merupakan dua lensa utama yang memungkinkan kita membaca sejarah negosiasi Islam dan sastra Indonesia secara lebih representatif. Karenanya, esai ini sengaja membatasi diri untuk mengelaborasi dua tipologi utama yang paling awal dalam menggerakkan roda negosiasi tersebut di paruh pertama abad ke-20 dan masa-masa sesudahnya, yakni gerbong Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Bertukar Tangkap: Muhammadiyah dan Sastra Indonesia

Angin pembaruan Islam yang berembus kencang dari Mesir pada awal abad ke-20 segera berlayar menyeberangi samudra dan sampai ke pelukan Nusantara, khususnya Minangkabau. Denyut nadi pemikiran kemajuan yang digelorakan di Universitas Al-Azhar itu kemudian menemukan tanah persemaiannya yang subur di tanah Jawa. Di Yogyakarta, jantung kebudayaan Jawa yang kala itu sedang bergulat dengan penetrasi kolonial modern, KH Ahmad Dahlan menangkap angin segar tersebut dengan kepekaan spiritual dan intelektual yang tinggi. Alih-alih membiarkannya menguap sebagai wacana elite, ia melembagakan energi pembaruan itu ke dalam sebuah wadah pergerakan yang terorganisasi secara modern, yang kemudian dideklarasikan sebagai persyarikatan Muhammadiyah pada tahun 1912. Kelahiran organisasi berlambang matahari bersinar ini bukan sekadar menandai babak baru bagi ijtihad keagamaan, pendidikan, dan sosial-ekonomi, melainkan juga meletakkan batu pertama bagi cetak biru gerakan literasi dan estetika modern umat yang akan mengubah lanskap kebudayaan nasional secara revolusioner.

Angin segar modernisme Islam ini kemudian bertemu dengan angin segar lainnya yang juga baru menyingsing di ufuk Nusantara pada awal abad ke-20: modernisme sastra Indonesia. Tajdid keagamaan berjumpa dengan pembaruan sastra. Jika angin pertama membawa semangat pembaruan teologis dan rasionalitas keagamaan, angin kedua membawa gairah pembebasan estetis dari belenggu konvensi sastra Melayu klasik yang dianggap telah kehilangan daya hidupnya—spirit Poedjangga Baroe. Kedua embusan angin ini, meskipun berasal dari arah yang berbeda—satu dari Timur Tengah dan satu lagi dari Eropa melalui institusi kolonial dan pendidikan Barat—memiliki kesamaan denyut yang mendasar: keduanya adalah ekspresi dari semangat zaman yang ingin memutus rantai ketertinggalan, menolak sikap pasif terhadap tradisi yang membatu, dan membuka cakrawala baru bagi cara manusia Indonesia berpikir, merasa, dan mengekspresikan diri.

Tinggalkan Balasan