Pesantren dan “The Next Gus Dur”

Gus Dur adalah salah satu tokoh yang kerap menampilkan sisi humoris. Namun, jangan salah, kehumorisannya tampak elegan diwarnai kekayaan intelektual yang dimilikinya. Mendengar nama Gus Dur, mungkin spontan kita selalu teringat dengan pernyataan-pernyataannya yang selalu nyeleneh (baca: lucu). Namun, justru pemikiran-pemikirannya selalu segar dan menjadi acuan, termasuk dalam hal pluralisme.

Dalam dakwahnya, Gus Dur selalu menekankan terjaminnya hak-hak kemanusiaan pada setiap personal, tanpa melihat background yang dimiliki. Kedamaian adalah karakter di setiap penyampaiannya, sebagaimana saat ini teraktualisasi dan dipraktikkan oleh kiai-kiai NU pada umumnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Menilik pada sebuah tulisannya —sebagaimana dijelaskan Kiai Said Aqil Siradj— latar belakang Gus Dur yang kokoh membumikan pluralisme adalah tradisi kesantriannya. Lahir di keluarga pesantren dan tumbuh di lingkungan pesantren barangkali sebab utama nilai pluralisme sangat tinggi.

Sistem nilai pesantren, bagi Gus Dur, adalah sistem yang selama ini dijunjung oleh umat Islam. Bagaimana tidak? Pesantren saat ini menjadi salah satu peradaban keilmuan, tatakrama/moral, dan semacamnya. Selain mendalami disiplin keilmuan, pesantren juga menawarkan pendidikan karakter. Sesederhana apa pun itu, seperti membalikkan sandal kiai, adalah karakteristik yang mungkin hanya dimiliki pesantren.

Di sisi yang berbeda, kepluralistikan (beragam) santri adalah salah satu alasannya. Di pesantren, kita akan menemukan beragam santri dengan kebudayaan, bahasa, dialek, dan isi kepala yang berbeda-beda. Namun solidaritas yang diajarkan tidak membuat santri menanggapi sinis perbedaan tersebut, apalagi sampai mengangkat pedang untuk berperang.

Segala macam bentuk humanisme bisa kita jumpai di pesantren. Sehingga dengan itu, Gus Dur membentuk pluralismenya, lalu mempromosikannya.

Saat ini, euforia pendidikan pesantren memiliki eksistensi yang besar. Pesantren tidak lagi dipandang sebagai sistem yang kolot, melainkan menjadi salah satu peradaban keilmuan di Indonesia. Maka, langkah yang tepat saat ini bukan hanya sekadar menarik minat masyarakat, melainkan juga membenahi sistem pembelajaran dan ajaran. Sehingga akan lahir banyak “The Next Gus Dur” baik dari segi wawasan dan pluralismenya. Wallahu a’lam.

3 Replies to “Pesantren dan “The Next Gus Dur””

Tinggalkan Balasan