Pesantren dan “The Next Gus Dur”

Nah, sementara, di satu sisi, masyarakat kita kerap terkepung dalam bayangan radikalisme. Krisis toleransi dan kemanusiaan yang semakin kronis. Kemajemukan rupanya tidak lagi dianggap sebagai keniscayaan. Sehingga, indikasinya menjalar pada hal-hal yang fatal, seperti caci maki, terorisme, dan krisis kemanusiaan lainnya. Maka, sangat perlu, masyarakat melindungi diri dari amukan demikian.

Lantas, menyikapi hal demikian, apakah pesantren memiliki peran? Tentu, pesantren dengan sistem keilmuan tradisionalnya sangat berperan. Eksistensinya bisa menjadi benteng dari serangan tersebut.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sikap tolong-menolong, prioritas adab, solidaritas yang menjadi ciri khasnya (pesantren) bisa memberi pemahaman pluralisme terhadap santri. Selain itu juga memberi kesadaran bahwa kemajemukan adalah hal yang patut diamini.

Genealogi Pluralisme Gus Dur

Kemajemukan kerap menumbuhkan polemik. Sebagaimana dijelaskan di depan, krisis humanisme yang terjadi akhir-akhir ini adalah bukti bahwa keragaman Indonesia tidak selalu direspons dengan baik.

Indonesia sebagai salah satu negara besar di dunia pastinya menyimpan keragaman yang kompleks. Dilihat dari aspek budaya, bahasa, suku, agama, dan ras yang bermacam-macam. Maka dari realitas ini, masyarakat Indonesia perlu melihatnya dengan peka. Namun, saat ini diskursus mengenai pluralisme yang masih ironi adalah dalam hal agama.

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, salah satu tokoh Nahdhatul Ulama (NU) sekaligus tokoh bangsa yang paling getol  mempromosikan pluralisme. Sebagai salah seorang ulama yang dikenal dengan kematangan pluralismenya, ia sudah membuktikan bahwa perbedaan tidak perlu disikapi secara gaduh. Bahkan, mempermasalahkan pluralitas adalah hal yang sia-sia. Gus Dur menjadi tokoh yang paling giat menyuarakan pluralisme, tidak hanya di Nusantara, melainkan ke seantero dunia.

3 Replies to “Pesantren dan “The Next Gus Dur””

Tinggalkan Balasan