Dalam konteks itu, pesantren ternyata tidak hanya mendidik santri menjadi muslim yang baik, tetapi juga warga negara yang mampu hidup berdampingan dengan siapa pun. Dalam konteks ini sejalan dengan apa yang menjadi latar belakang terbitnya bukunya, Ngatawi mengajak pembaca melakukan perjalanan yang berbeda. Ia tidak memulai dari ruang sidang BPUPKI atau pidato-pidato kenegaraan, melainkan dari kehidupan masyarakat, rumah-rumah budaya, komunitas seni.
Di sana ia menyaksikan sesuatu yang jarang terlihat dalam ruang-ruang seminar: Pancasila hadir sebagai tindakan nyata. Bantuan hukum bagi rakyat kecil, pendampingan keluarga miskin, pembangunan rumah bagi kaum papa, beasiswa bagi anak-anak, hingga pendampingan terhadap mantan narapidana terorisme menjadi wajah konkret dari nilai-nilai Pancasila.

Sementara itu, Agus R. Sarjono, sastrawan Indonesia yang juga hadir sebgai narasumber menegaskan, bahwa Indonesia tidak kekurangan bahan merajut nilai-nilai Pancasila, salah satu yang menyebabkan “runtuhnya” nilai-nilai Pancasila ada perilaku pejabat yang lebih mengedapankan sifat formalisme dengan segala kerumitan administrasi ketimbang menghadirkan esensi dan hadir di tengah Masyarakat.
Pancasila bukan retorika. Pancasila adalah tindakan. Dari sanalah muncul pertanyaan yang terasa mengusik. Mengapa bangsa ini masih dipenuhi korupsi? Bukankah hampir semua koruptor pernah belajar Pancasila? Mengapa kekerasan atas nama agama masih terjadi? Bukankah semua pelakunya juga pernah menghafal lima sila? Mungkin persoalannya memang bukan pada kurangnya pengetahuan. Yang hilang adalah keteladanan. Yang rapuh adalah karakter. Yang memudar adalah keberanian menjadikan nilai sebagai jalan hidup. Di sinilah pesantren memiliki sesuatu yang sering dilupakan bangsa ini.
Pesantren mendidik manusia bukan hanya melalui pelajaran, tetapi melalui kehidupan. Santri belajar bangun sebelum subuh. Belajar disiplin. Belajar hidup sederhana. Belajar mengabdi.
Belajar menerima perbedaan. Belajar bahwa ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan.
Bukankah seluruh proses itu adalah pendidikan Pancasila dalam bentuk yang paling nyata? Diskusi di Pondok Pesantren Minggir akhirnya tidak lagi sekadar membedah isi sebuah buku. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan antara dua mata air besar Indonesia: pesantren sebagai penjaga tradisi keilmuan dan BPIP sebagai pengemban amanat pembinaan ideologi bangsa.
Keduanya bertemu pada satu keyakinan: bahwa masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa sering kita mengucapkan Pancasila, melainkan oleh seberapa sungguh kita menghidupinya.
Barangkali inilah alasan mengapa Bung Karno memilih kata “menggali”, bukan “menciptakan”. Api itu sesungguhnya sudah lama ada. Ia menyala di ruang-ruang tempat manusia saling menghormati, berbagi, bergotong royong, memuliakan ilmu, dan mengabdi kepada sesama.
Api itu menyala di desa-desa. Di sanggar-sanggar budaya. Di rumah-rumah sederhana. Dan, selama berabad-abad, ia tetap menyala di pesantren.
Karena itu, ketika duniasantri.co bersama BPIP memilih Pondok Pesantren Minggir sebagai tempat mendiskusikan Menggali Api Pancasila, yang sesungguhnya sedang dilakukan bukan sekadar membedah sebuah buku. Yang sedang dilakukan adalah mengingatkan bangsa ini bahwa akar Pancasila masih hidup. Ia tumbuh dalam tradisi yang merawat adab, memuliakan ilmu, menjaga persaudaraan, dan mengabdikan diri kepada kemaslahatan bersama.
