Pesantren sebagai Akar Penguatan Pancasila

Pernyataan itu terdengar sederhana. Namun justru dalam kesederhanaannya tersimpan kritik yang tajam. Persoalan Indonesia bukan terletak pada kurangnya konsep, melainkan pada lemahnya kesediaan menjalankan nilai-nilai yang telah disepakati bersama.

Di pesantren, nilai tidak diajarkan sebagai slogan. Santri belajar menghormati guru bukan karena ada undang-undang. Mereka bergotong royong membersihkan halaman bukan karena ada kamera. Mereka antre mengambil makan, berbagi ruang tidur, hidup bersama teman yang berasal dari Aceh, Madura, Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, hingga Papua. Semua berlangsung sebagai kebiasaan yang perlahan membentuk watak, ungkap Ngatawi Al-Zastrouw dengan Jenaka.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Di situlah letak perbedaan paling mendasar antara pendidikan nilai dan pendidikan pengetahuan,” imbuhnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Agus Moh. Najib yang juga hadir sebagai narasumber dalam diskusi yang digelar sejak pukul 14.30-17.30 itu, mengingatkan bahwa tugas terbesar generasi hari ini bukan lagi memperdebatkan penting atau tidaknya Pancasila. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana menyampaikan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda dengan cara-cara yang inovatif.

Generasi digital tidak lagi hidup dalam ruang yang sama dengan generasi pendiri bangsa. Mereka tumbuh bersama algoritma, media sosial, kecerdasan buatan, dan banjir informasi. Bahasa indoktrinasi tidak lagi mempan. Ceramah satu arah tidak lagi cukup.

Karena itu, Pancasila harus hadir dalam bahasa yang dipahami anak muda: melalui literasi, film, musik, seni, tradisi, media digital, bahkan percakapan sehari-hari. Nilai tidak boleh kehilangan relevansinya hanya karena cara penyampaiannya tertinggal oleh zaman.

Di sinilah pesantren memiliki peluang besar. Selama berabad-abad pesantren telah membuktikan kemampuannya mentransmisikan nilai melalui keteladanan, tradisi, dan kebiasaan. Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk rasa.

Rasa malu ketika berbuat curang. Rasa hormat kepada guru. Rasa empati kepada sesama. Rasa memiliki terhadap tanah air. Bukankah semua itu adalah inti dari Pancasila?

Pandangan menarik datang dari Dr. Ireni Camely Sinaga. Dengan senyum yang hangat ia memperkenalkan dirinya sebagai “orang Nahdliyin cabang Katolik”. Kalimat yang mengundang senyum hadirin itu justru menjadi simbol indah tentang Indonesia.

Ia melihat pesantren sebagai contoh konkret bagaimana Pancasila hidup dalam keseharian. Pesantren, menurutnya, bukan hanya lembaga pendidikan Islam, melainkan ruang pembelajaran kemanusiaan. Di sana, toleransi tidak dibangun melalui slogan-slogan besar, tetapi melalui pengalaman hidup bersama, saling menghormati, dan saling membantu.

Pernyataan itu mengingatkan bahwa Pancasila tidak lahir untuk menyeragamkan perbedaan. Sebaliknya, ia menjadi rumah yang memungkinkan setiap orang tetap menjadi dirinya sendiri tanpa kehilangan rasa persaudaraan.

Tinggalkan Balasan