Setiap pagi, sebelum ayam berkokok untuk kedua kalinya, ayah sudah berada di halaman belakang rumah. Ia menjejak tanah yang masih dingin, memdorong Argo yang berisi garam basah dengan gerakan pelan dan teratur. Lalu ia mulai mengumpulkan garam itu dan menyusunnya dalam bentuk menyerupai piramida yang berdiri kokoh sebelum Matahari naik. Kami menyebutnya piramida putih.
Bagi oang luar, tumpukan itu tak lebih dari garam yang dikumpulkan dan dijemur. Namun bagi ayah, setiap piramida adalah hitungan hari, apakah kami bisa makan, apakah ibu bisa membeli obat, apakan aku masih bisa sekolah.

Rumah kami berdiri tak jauh dari pesisir. Angin asin tak pernah pergi. Dinding rumah mengelupas, seng berkarat, dan lantai tanah selalu lembap. Namun ayah tetap menyusun piramida itu dengan kesabaran yang hampir menyerupai doa. Ia jarang berbicara tentang lelah. Jika matahari sudah tepat di atas kepala dan piramida itu berdiri utuh, ayah hanya duduk sebentar, memandang hasil kerjanya, lalu mengusap kening. Baginya, selama piramida putih itu berdiri, hidup kami masih tersambung.
Ayah tidak pernah bercita-cita menjadi pembuat piramida putih. Dahulu, ia adalah petani tambak kecil. Namun tanahnya dijual ketika ibu mulai sering sakit dan biaya pengobatan tak lagi bisa ditunda. Sejak itu, ayah bekerja dengan apa pun yang bisa dilakukan oleh tubuhnya.
Membuat piramida putih bukan pekerjaan ringan. Untuk menjadi garam, lahan harus dikeringkan terlebih dahulu. Lalu menunggu air dengan tingkat keasinan yang tepat untuk dialirkan pada lahan yang telah disiapkan. Lalu menunggu Matahari melakukan tugasnya membantu proses pembentukan garam. Jika cuaca tidak mendukung, maka prosesnya harus diulang dari awal.
“Ayah, kenapa harus bentuk piramida?” tanyaku suatu sore.
Ayah hanya tersenyum tipis. “Karena hidup kita juga disusun pelan-pelan. Kalau tergesa, bisa runtuh.”
Namun waktu tidak selalu bersahabat. Harga garam sering turun tanpa peringatan. Kadang pedagang datang terlambat, kadang tak datang sama sekali. Pada hari-hari seperti itu, ayah memandangi piramida putih lebih lama dari biasanya, seolah berharap bentuknya bisa berubah menjadi uang dengan sendirinya.
Ibu semakin sering terbaring. Adikku masih kecil dan sering bertanya kenapa ayah tak pernah libur. Aku mulai mengerti bahwa piramida itu bukan sekadar pekerjaan, melainkan satu-satunya cara ayah menjaga kami tetap bernapas.
Musim mulai tak menentu. Pagi cerah bisa berubah hujan dalam hitungan menit. Ayah semakin sering melihat langit. Setiap awan gelap membuat bahunya menegang. Suatu hari, tengkulak datang lebih cepat. Ia memeriksa piramida yang sudah dibuat ayah, menyentuhnya dengan jari. “Kurang kering,” katanya singkat. Harga dipotong. Ayah mengangguk. Tak ada tawar-menawar. Aku melihat jari-jarinya gemetar, bukan karena dingin, tetapi karena menahan sesuatu yang tak pernah keluar lewat mulut.
Tekanan datang bertubi-tubi. Ibu butuh obat baru. Sekolah meminta biaya tambahan. Ayah tetap menyusun piramida putih, meski punggungnya semakin sering ia pegang, meski langkahnya makin berat.
Suatu sore, aku membantu ayah. Garam terasa tajam di kulit. “Perih, Yah,” kataku. Ayah menatap tanganku sebentar. “Makanya ayah yang lakukan,” ujarnya pelan. Saat itu aku sadar, piramida putih itu tidak hanya menyambung hidup kami, tetapi juga menggerogoti tubuh ayah perlahan-lahan.
Hari itu hujan turun tanpa aba-aba. Langit yang sejak pagi cerah mendadak gelap. Angin berembus keras, membawa bau laut yang lebih pekat dari biasanya. “Ayah!” aku berteriak dari dalam rumah. Ayah berlari ke halaman. Terlambat. Air hujan menghantam piramida-piramida putih. Garam mencair, bentuk runtuh, puncak yang disusun dengan hati-hati berubah menjadi gundukan tak beraturan.
Ayah berdiri di tengah halaman, tak bergerak. Hujan membasahi tubuhnya. Ia tidak berusaha menyelamatkan apa pun. Untuk pertama kalinya, aku melihat ayah tampak kecil seperti seseorang yang baru saja kehilangan arah. Ia berlutut, menyentuh garam yang larut. Tangannya gemetar. “Sudah,” katanya lirih. Entah pada siapa.
Aku mendekat, membantu mengangkat terpal untuk menutupi piramida yang tersisa. Ayah tiba-tiba terhuyung. Tubuhnya ambruk di tanah basah, di antara sisa-sisa piramida putih.
Panik. Ibu menangis. Tetangga berdatangan. Hujan terus turun, seolah tak peduli bahwa hari itu, hidup kami hampir runtuh bersama piramida putih. Ayah sadar menjelang malam. Tubuhnya lemah, matanya sayu. Dokter desa berkata ayah harus mengurangi pekerjaan berat. Ibu menggenggam tangannya erat, seolah takut melepaskan.
Keesokan paginya, aku keluar rumah mengunjungi sisa piramida yang berantakan. Tanganku masih perih, tetapi aku mulai menyusun. Tidak sempurna. Tidak setinggi buatan ayah. Namun aku mencoba. Ayah berdiri di ambang pintu, memperhatikan. Ia tidak melarang. Tidak pula menyuruh. Matanya berkaca-kaca.
Piramida putih itu kembali berdiri lebih kecil, lebih sedikit. Namun kali ini, tidak hanya ditopang oleh satu tubuh. Aku akhirnya mengerti, piramida putih bukan tentang garam. Ia tentang ayah yang menyusun hidup kami dengan diam, tentang cinta yang tidak pernah diucapkan, tetapi selalu dikerjakan. Mungkin suatu hari hujan akan datang lagi. Mungkin piramida itu akan runtuh. Namun pengorbanan ayah telah mengeras di dalam ingatan kami, lebih kokoh daripada bentuk apa pun yang bisa disusun tangan manusia.
Madura, Maret 2026.
