Piramida Putih

Ayah hanya tersenyum tipis. “Karena hidup kita juga disusun pelan-pelan. Kalau tergesa, bisa runtuh.”

Namun waktu tidak selalu bersahabat. Harga garam sering turun tanpa peringatan. Kadang pedagang datang terlambat, kadang tak datang sama sekali. Pada hari-hari seperti itu, ayah memandangi piramida putih lebih lama dari biasanya, seolah berharap bentuknya bisa berubah menjadi uang dengan sendirinya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ibu semakin sering terbaring. Adikku masih kecil dan sering bertanya kenapa ayah tak pernah libur. Aku mulai mengerti bahwa piramida itu bukan sekadar pekerjaan, melainkan satu-satunya cara ayah menjaga kami tetap bernapas.

Musim mulai tak menentu. Pagi cerah bisa berubah hujan dalam hitungan menit. Ayah semakin sering melihat langit. Setiap awan gelap membuat bahunya menegang. Suatu hari, tengkulak datang lebih cepat. Ia memeriksa piramida yang sudah dibuat ayah, menyentuhnya dengan jari. “Kurang kering,” katanya singkat. Harga dipotong. Ayah mengangguk. Tak ada tawar-menawar. Aku melihat jari-jarinya gemetar, bukan karena dingin, tetapi karena menahan sesuatu yang tak pernah keluar lewat mulut.

Tekanan datang bertubi-tubi. Ibu butuh obat baru. Sekolah meminta biaya tambahan. Ayah tetap menyusun piramida putih, meski punggungnya semakin sering ia pegang, meski langkahnya makin berat.

Suatu sore, aku membantu ayah. Garam terasa tajam di kulit. “Perih, Yah,” kataku. Ayah menatap tanganku sebentar. “Makanya ayah yang lakukan,” ujarnya pelan. Saat itu aku sadar, piramida putih itu tidak hanya menyambung hidup kami, tetapi juga menggerogoti tubuh ayah perlahan-lahan.

Tinggalkan Balasan