Jadi, sejak awal perkembangan Islam di Nusantara, para wali penyebar Islam sebenarnya telah menunjukkan cara berislam yang ramah di tengah keragaman agama masyarakat Nusantara. Ini menjadikan Islam ramah yang menghormati perbedaan sebagai satu ekspresi Islam Nusantara yang sejak dulu sudah dicontohkan oleh para wali dan ulama penyebar Islam.
Dinamisasi Tradisi

Sebagaimana yang Gus Dur jelaskan dalam “Pribumisasi Islam” bahwa, “…budaya adalah buatan manusia, karenanya ia berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan cenderung untuk selalu berubah.” Konsep perkembangan budaya ini, dalam ajaran Gus Dur, membawa pada gagasan dinamisasi tradisi. Ini menjadikan sumbangan pemikiran Gus Dur dalam diskursus Islam Nusantara, sebenarnya tidak hanya tentang pribumisasi Islam, namun juga ada gagasan dinamisasi tradisi sebagai proses dinamika budaya yang turut membentuk wajah Islam Nusantara.
Pemikiran terkait dinamisasi tradisi, Gus Dur tuliskan dalam bukunya yang berjudul Menggerakkan Tradisi. Dalam buku itu, Gus Dur menjelaskan bahwa dinamisasi tradisi mencakup dua proses; penggalakan kembali nilai-nilai hidup positif yang telah ada dan mencakup pula penggantian nilai-nilai lama itu dengan nilai-nilai baru yang dianggap lebih baik. Jadi, dinamisasi tradisi dalam ajaran Gus Dur merupakan upaya membawa tradisi pada “perubahan ke arah penyempurnaan keadaan.” Hal itu dilakukan dengan tetap menggunakan modal kearifan tradisi yang telah ada sebagai dasarnya.
Proses dinamisasi tradisi dalam sejarah Islam di Nusantara dapat kita lihat, semisal dari upaya para wali dalam mengembangkan institusi pesantren pada masa awal Islam di Nusantara. Di mana, Sunan Ampel mendinamisasikan tradisi pendidikan padepokan menjadi pesantren. Unsur-unsur wiku (murid), resi (guru), dan padepokan (tempat belajar) pada dasarnya tetap ada, namun dengan wajah yang baru berupa santri, kiai, dan pondok. Sistem pendidikan Hindu-Budha, oleh Sunan Ampel diganti dengan sistem pendidikan Islam. Dinamisasi tradisi pendidikan ini, yang kemudian melahirkan kekhasan pendidikan Islam di Nusantara dalam bentuk pondok pesantren.
Tidak Putus Masa Lampau
Dalam buku Prisma Pemikiran Gus Dur ada penjelasan, yang menurut saya turut menjelaskan pencarian Islam Nusantara sebagai ekspresi beragama Islam yang tidak putus dengan masa lampau. Di mana, Gus Dur menjelaskan kalau, “…yang ‘paling Indonesia’ di antara semua nilai yang diikuti oleh warga bangsa ini adalah pencarian tak berkesudahan akan sebuah perubahan sosial tanpa memutuskan sama sekali ikatan dengan masa lampau.”
Tradisi Islam boleh saja terus berkembang, namun itu tidak berarti memutus hubungan dengan akar sejarah. Pribumisasi Islam, yang juga termasuk dinamisasi tradisi, adalah sebuah proses pencarian akan cara beragama yang tidak memutus hubungan dengan masa lampau.
Ya, meski secara gagasan pribumisasi Islam baru mengemuka pada akhir abad ke-20 lewat ajaran Gus Dur, namun secara praktek telah dilakukan oleh para wali sejak masa awal perkembangan Islam di Nusantara. Akomodasi Islam dan budaya lokal serta dinamisasi tradisi dengan nilai-nilai Islam, yang dilakukan oleh para wali dalam menyebarkan Islam di Nusantara, dan diteruskan oleh para ulama dalam mengembangkan Islam, termasuk juga oleh Gus Dur yang memberi gagasan pribumisasi Islam, adalah proses-proses sejarah yang membentuk wajah Islam Nusantara menjadi Islam yang tidak putus dengan masa lampau.
