Puasa sebagai Media Transformasi Diri

Terbilang sejak lulus dari bangku SMA, saya memiliki kebiasaan menamatkan dan membaca kembali lembar-lembar Nurcholish Madjid (Cak Nur) sebelum bulan puasa itu tiba. Lembar-lembar tersebut dihimpun oleh Yayasan Paramadina menjadi dua buah buku berjudul Dialog Ramadlan Bersama Cak Nur, dan Pintu-Pintu Menuju Tuhan.

Mula-mula bapak saya yang memperkenalkan secara sepintas pada sosok Cak Nur saat saya masih duduk di bangku SMA. Bapak saya yang di waktu muda cukup sering membeli buku salah satu penerbit pemikiran Islam di Bandung, sehingga merasa akrab dengan sosok dan pemikiran Cak Nur yang sama-sama lulusan Pondok Modern Gontor.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di masa SMA, saya juga memiliki kebiasaan membaca kolom-kolom opini Buya Syafi’i Maarif di koran Republika yang hadir setiap pekan. Mungkin terbentuk oleh kebiasaan membaca kolom-kolom opini Buya Syafi’i Maarif, saya bisa nyambung dengan tema kajian Cak Nur yang merupakan pendahulunya sebagai pemikir Islam Indonesia yang sama-sama lulusan Chicago, Amerika Serikat. Kemudian saya membaca biografi keduanya di masa semester awal saat saya studi ilmu sejarah di salah satu kampus negeri di Yogyakarta.

Biografi Cak Nur ditulis oleh Ahmad Gaus AF, Api Islam Nurcholish Madjid: Jalan Hidup Seorang Visioner. Sedangkan, untuk Buya Safi’i lebih ke bentuk auto biografi yang ditulisnya berjudul Ahmad Syafii Maarif: Memoar Seorang Anak Kampung.

Cak Nur membuka esai lembar-lembar Ramadan dengan cerita menjalani puasa di masa kecil: ingatan yang selalu terekam, dan menjadi bayangan ideal akan sebuah kenangan. Juga potret nuansa menyambut bulan puasa hingga perayaan Idul Fitri (Lebaran) di Indonesia yang dinilai unik, sehingga memberi kesan mendalam usai melewatinya sebulan penuh. Dalam potret yang ditulisnya, anak kecil memahami puasa bukan sebatas doktrin agama, melainkan lebih pada peristiwa kebudayaan. Cak Nur mengungkapkannya demikian:

Puasa di bulan Ramadhan barangkali merupakan ibadah wajib yang paling mendalam bekasnya pada jiwa seorang Muslim. Pengalaman selama sebulan dengan berbagai kegiatan yang menyertainya seperti berbuka, tarawih, dan makan sahur senantiasa membentuk unsur kenangan yang mendalam akan masa kanak-kanak di hati seorang muslim.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan