Refleksi Takwa: Melihat Diri Sendiri

Takwa menuntun pada tindakan kecil yang konsisten, ajek, istikamah, memberi ketika tangan terasa sempit, menahan lidah saat amarah menyalak, memegang janji saat keuntungan menggiurkan lewat.

Tindakan semacam mungkin sederhana dan remeh, tapi membentuk karakter setiap manusia. Dan Tuhan melihat mata hati setiap hamba. Wallahu bashirun bima ta’malun. Allah melihat segala yang kita lakukan. Dalam ayat lain, disebutkan, “Allah mengetahui pengkhianatan (penyelewengan dan ketiadaan jujur) pandangan mata seseorang, serta mengetahui akan apa yang tersembunyi di dalam hati.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tetapi belakangan ini semakin marak, agama dijadikan tipu daya. Kalimat-kalimat dipoles, dicitrakan “saleh” dipamerkan untuk menutupi kehampaan. Ketika agama dimanfaatkan sebagai perhiasan, maka akan kehilangan beratnya sebagai penopang moral. Seorang yang pandai melafalkan doa belum tentu pandai menimbang hak orang lain. Seorang yang salat dengan rapi belum tentu tahu bagaimana memulangkan utang nuraninya terhadap sesama. Sejarah sering penuh ambiguitas, apalagi sejarah kita sendiri. Betapa tindakan besar dapat lahir dari kesombongan, dan tindakan kecil yang tampak hina bisa menjadi pengorbanan yang ikhlas.

Maka, pertanyaannya tidaklah, “Siapakah yang paling tampak saleh di antara kita?” melainkan “Siapa yang paling mengetahui batas dirinya dan menyesuaikan tindakannya dengan pengetahuan itu?” “Siapa yang ketika diberi kuasa, menimbangnya sebagai amanah? Ketika diberi kelemahan, menyambutnya sebagai pelajaran? Ketika diberi kesempatan, memilih kasih daripada gengsi?

Itulah bentuk insan yang berimplikasi konkret dengan merawat, memberi, menyelamatkan, menahan.

Ketika malam mulai larut dan menjelang tidur, apakah ada rasa malu yang mendorong untuk memperbaiki hidup kita? Atau justru keangkuhan yang merampas kemampuan untuk berubah? Manusia yang baik banyak legawa, tidak sok dewasa, tidak menilai sana dan membawa ke sini, tetapi melihat diri sendiri dan bermuhasabah. Meski menyakitkan karena memantulkan kebiasaan yang selanjutnya harus diubah, tapi yang demikian itu adalah langkah untuk tidak merugi di kemudian hari.

Tinggalkan Balasan