Refleksi Takwa: Melihat Diri Sendiri

Pendek kata, persamaan dasar kita adalah jalan bersama. Perbedaan yang berarti adalah bagaimana setiap langkah diarahkan. Ada yang memilih jalan yang meruncing pada kepentingan diri, ada yang memilih jalan yang merenggang untuk memberi ruang pada yang lain. Ukurlah dengan takwa. Fazinuuhu bi mizani as-syari’at, timbanglah dengan syariat, bagaimana seorang menjalankan syariatnya, bukan hanya hal-hal mistis yang kerap dijumpai dan ditampakkan.

Takwa adalah praktik yang menuntun hidup kita, bukan label dari segala sifat manipulatif. Karena ketika semua itu dirampas, yang tersisa hanyalah nama-nama pada catatan dan nisan. Ketika takwa menguat, hidup menjadi jawaban yang layak untuk setiap panggilan kebaikan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kita semua memang sama dalam hal asal dan tujuan yang pasti. Bedanya terletak pada kedalaman hati yang merawat kemanusiaan. Siapa yang paling bertakwa akan menunjukkan itu melalui tangan-tangan yang memberi, kata-kata yang menumbuhkan, dan keheningan yang mampu mendengar.

Jangan kemaki, ita-itu, petita-petiti, dan yok-yok-o paling berjasa dalam setiap kehidupan manusia, apalagi di sebuah lingkungan sosial. Sebab sebaik apa pun manusia, dia butuh pada sehat. Dan siapa yang dapat berkutik di hadapan sakit? Semua orang pasti ingin sehat dan sembuh, tetapi sekali pun, batas ikhtiar, usaha manusia hanya berobat, tidak punya otoritas dan kuasa apa pun untuk menentukan ajalnya sendiri.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan