DI BALIK JUBAH
I

Di puncak singgasana sabda,
ia memoles kata
dengan lisan berhias firman,
menyela aksara penuh alibi—
tersembunyi dalam semilir kelam,
bagai senja
yang perlahan menelan fajar.
Lapisan kain semu pada tubuhnya
menarik simpati mata,
namun waktu, bak sang penjaga
menjadi saksi yang tak pernah alpa
Ia menjual aksara wahyu
dengan gemerlap fana
menyihir iman
menjadi lelang kesucian
terjerat fatamorgana dunia
Wahai Adam yang meneguk anggur dari telaganya
apakah kau tak tahu—
anggur itu memabukkan?
II
Dahulu suaranya adalah pijar
bak pengantar jiwa menuju kayangan
Kini ia menjelma
rongrongan sunyi di lorong ambisi
menyeruak hampa
di mazbah yang mulai runtuh
Ia tetap melangkah
tanpa arah pasti
bersembunyi di balik tirai
pelataran suci
Tak lagi menapaki sunyi yang jujur
namun berjinjit
di pasar pujian yang riuh
Kebenaran dinilai
dari banyaknya pengikut
dosa digadai
dalam transaksi kepentingan.
butir demi butir
Kepercayaan pun mengikis sunyi,
III
Bintang tak mengingkari cahayanya,
namun Adam kerap alpa
menyibak langit
Termenung oleh lilin
yang disakralkan waktu
hingga lupa:
nur tak selamanya
menyala pada tubuh
Tokoh yang ditaburi puja pun luluh
ketika akar kejujuran mulai rapuh
hanyut dalam arus kendali yang memikat
mengatup hakikat yang pernah ia alunkan.
Menyisakan riak suara tanpa jiwa,
di antara rangka moral
yang telah menganga.
“Na’udzubillah.”
RISALAH SARUNG DAN PECI HITAM
Gemuruh kayu dipukul pelan
sayup bisikan santri membangunkan
di antara gigil yang merambat dari ubun-ubun ke ujung selangkangan
raga bangkit meluruhkan lelah
melawan kantuk, merangkak mengejar rida yang tak pernah salah
sarung tersampir, peci hitam tak terkendali
langkah demi langkah mengarah menuju pancuran yang menyapa nadi
membasuh mimpi, lisan bergetar “Nawaitul Wudu’a”
di barisan belakang musala
santri-santri bersimpuh mengetuk arsy
dengan tunduk yang sama, meski beda cerita
menyatu dalam doa yang menembus angkasa
suara sang kiai adalah embun
melantunkan ayat penuntun
“Rabbana Atina fid dunya hasanah
wa fil akhirati hasanah wakina ‘adzaban nar”
dunia bukanlah bahtera menuju kefanaan
tapi bentala kebajikan untuk meraih keabadiaan
ALIBI SEPERTIGA MALAM
Saat matahari dunia terpejam rapat
dan bising riuh mulai beranjat
ada rindu yang merangsang pintu langit
mengantarkan jiwa letih, yang sempat jatuh sakit
air wudu membasuh letih yang tersisa
membangunkan jiwa raga dari lelapnya masa
sajadah terbentang, saksi bisu penyerahan
sujud menghadap Tuhan, Sang Maha bagi segala urusan
tanpa penonton, tanpa tepuk tangan
hanya bisikan lirih di sela isak tangisan
mungkinkah bumi mendengar suaramu yang parau?
oh, tidak, bumi tak mendengar suaramu yang parau
namun langit bergetar, menyambut doamu yang menyambar
engkau tumpahkan segala resah dan rahasia
kepada Dia yang Maha Bijaksana
sujud malam adalah cahaya di balik kelam
loka jiwa pulang sebelum fajar menyalam
sebuah Alibi yang tertinta di sepertiga malam
bahwa esok kan cerah, bagi jiwa yang tak lagi suram
DIKSI SUNYI
langit sedang mengeram dalam sunyi
di saat bintang-bintang mengawasi rahasia bumi
langkah semu menyeruak di keheningan malam
menuju sumber air yang suci
menyirami debu dunia yang menguasai hati
di atas permadani tipis yang membujur rendah
dunia yang perkasa hilang menjadi butiran-butiran kasa
tertunduk malu di hamparan dahi yang bersujud lama
letakkan Mahkota itu!
tak perlu diksi yang kuat
atau kosa kata yang menggugat
dia memahami, bahkan dalam hatimu yang paling pekat
menumpahkan suah adalah detak yang menenangkan
mengusir cemas, memeluk segala ketidakpastian
sampai fajar menyingkap di ufuk timur
kau bangkit dengan jiwa yang telah terukur
bukan lagi budak yang kalah oleh beban
tapi tuan yang siap menaklukkan tantangan
Sumber ilustrasi: unsplash.com.
