Kebenaran dinilai
dari banyaknya pengikut
dosa digadai
dalam transaksi kepentingan.
butir demi butir
Kepercayaan pun mengikis sunyi,
III

Bintang tak mengingkari cahayanya,
namun Adam kerap alpa
menyibak langit
Termenung oleh lilin
yang disakralkan waktu
hingga lupa:
nur tak selamanya
menyala pada tubuh
Tokoh yang ditaburi puja pun luluh
ketika akar kejujuran mulai rapuh
hanyut dalam arus kendali yang memikat
mengatup hakikat yang pernah ia alunkan.
Menyisakan riak suara tanpa jiwa,
di antara rangka moral
yang telah menganga.
“Na’udzubillah.”
RISALAH SARUNG DAN PECI HITAM
Gemuruh kayu dipukul pelan
sayup bisikan santri membangunkan
di antara gigil yang merambat dari ubun-ubun ke ujung selangkangan
raga bangkit meluruhkan lelah
melawan kantuk, merangkak mengejar rida yang tak pernah salah
sarung tersampir, peci hitam tak terkendali
langkah demi langkah mengarah menuju pancuran yang menyapa nadi
membasuh mimpi, lisan bergetar “Nawaitul Wudu’a”
di barisan belakang musala
santri-santri bersimpuh mengetuk arsy
dengan tunduk yang sama, meski beda cerita
menyatu dalam doa yang menembus angkasa
suara sang kiai adalah embun
melantunkan ayat penuntun
“Rabbana Atina fid dunya hasanah
wa fil akhirati hasanah wakina ‘adzaban nar”
dunia bukanlah bahtera menuju kefanaan
tapi bentala kebajikan untuk meraih keabadiaan
