RIWAYAT JAHANAM

Udara menyapu debu dan api, menggubah para penduduk untuk tidak lagi memerat keimanan. Tak ada segar rerumputan surga atau hijau dedaunan untuk dinikmati, satu demi satu menghadap Rasul senantiasa menggerisik pesan-pesan mistik. Perca-perca neraka hendak dipasung pada setiap busana, tanpa celaka—sedang esok harus meneguk air mendidih dan menindih pepohonan api. Jeritan Umar berpesan “Betapa andai aku hanya seekor kambing yang rida disembelih, dimakan dagingnya, dipisah tulang-belulangnya, hingga aku tak menguping riwayat tentang Jahanam.”

Wa inna jahannama lamau’iduhum ajma’in

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

(Sesungguhnya Jahanam tempat mereka semuanya) Q.S al-Hijr: 43

MERAWAT PENJURU KAKBAH

Kau tahu, Tuhan begitu hangat melimpahkan rahmat-rahmatNya sepanjang siang, dengan matahari yang meluruhkan ampunan saat seorang hamba membaham tanah penuh keras kepala. Tuhan mencekik bilik-bilik kefasikan sejenak, lalu memutus cahaya sekeliling hingga rembulan meringking sesak.

Kau tahu, airmata yang mengucur dari siasat seorang hamba, dapat meredakan bahala dan mengikap berhala-berhala saat semarak memandu parangan. Memancar dalam lautan, ikan-ikan pun meratap tunduk menggugat ampunan, air matanya mengalir ke surga tanpa tuntunan.

Kau pahami, bahwa langit mengerti rahasiamu, bahkan sebaliknya, dan kau lepaskan lantunan-lantunan takzim ketika kau butuhkan petunjuk Tuhan, nubuwah, dan wasiat dari Yang Maha Rahman.

Seperti air mata Quhafah yang merawat penjuru Kakbah, ia tergurat pada dusta saat menyudahi ruhul qudus berkisah. Menitik pada sajadah, Tuhan telah memikat iman dalam lembaran lusuh seorang hamba berselirat muktabar dan melucuti sekian cacat neraka.

“Allah telah membeli para mukminin, harta mereka dan jiwa mereka, bahwa bagi mereka adalah surga.” (Q.S Taubah:111)

 

Tinggalkan Balasan