Menangislah,
sebab usapku jauh lebih luas dari tetesmu.
/3/

Esoknya kau kembali,
membawa hati yang hampir mati.
Kau berujar tak akan lagi memiliki hati.
Kuperiksa napas hatimu,
masih kudengar denyut yang berpacu.
“Ia masih bisa hidup, asalkan ada hati lain yang berkorban.”
Kataku tentang hatimu.
Kuambil hatiku,
kusandingkan dengan hatimu.
Mencipta kehidupan baru.
/4/
Dulu kau berkata bahwa aku seorang penipu,
tapi adakah manusia yang tak suka menipu?
