Sementara itu, Beni Satria memberikan materi penulisan puisi berjudul “Menyeduh Kata, Membingkai Rasa”. Menurutnya, menulis puisi tak ubahnya seperti menulis cerpen. Salah satu perbedaannya, menurutnya, puisi bisa merupakan pemampatan dari cerpen.
“Tapi tidak sebaliknya. Karena, pilihan-pilihan bahasa dalam puisi berbeda dengan cerpen. Kuncinya, menulis harus terus dilatih, dimulai dari menulis apa saja yang kita pikirkan, baru kemudian disempurnakan bentuknya,” jelas Beni Satria.

Setelah workshop, para santri Daar Al Fikr masih akan terus didampingi oleh para narasumber sampai melahirkan karya tulis yang benar-benar layak untuk diterbitkan. Pendampingan akan dilakukan tiap dua pekan. “Syukur kalau bisa diterbitkan dalam bentuk buku,” harap Kiai Hadi.
