“Sastra selalu membebaskan, dan politik seringkali memenjarakan.” Begitulah tercatat dalam ingatan penulis ketika berbincang-bincang dengan seorang kawan. Mungkin ini jugalah yang menjadikan sastra tak terkurung oleh dikotomi baik-buruk. Ia membebaskan siapa pun untuk bersuara. Tak ada kasta dalam sastra, tapi ia sanggup merangkum ragam perspektif. Kadang sastra menjadi semacam tempat sampah yang unlimited, yang menampung segalanya.
Seperti disebutkan dalam salah satu puisi Umbu Landu Paranggi, ia menulis, “Karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan.” Atau bacalah juga puisi Taufiq Ismail yang berjudul Dengan Puisi Aku. Di sana (sastra: puisi), para pujangga seakan menaruh kepercayaan yang la roiba fih.

Tak hanya berbicara duka-nestapa estetika saja. Sastra juga melahirkan kritik dan gagasan yang kuat dan elegan. Sastra dialektis lebih nikmat dibaca daripada membaca tulisan-tulisan yang frontal. Ada semacam alunan berirama yang dirasakan ketika kritik itu dibungkus dengan corak sastrawi. Alunan irama itu tak membuat kita lupa terlena. Tapi malah membuat kita tersadarkan dan mawas diri.
Tak ayal jika sastra dialektis memiliki andil besar dalam memberi bentuk tatanan masyarakat, tak terkecuali sebuah bangsa. Borok-borok dari zaman kolonial sampai post-kolonial dibeberkan secara cerdas oleh sastra. Bahkan, terkadang alur penokohan dari lakon sastra yang ditulis dengan pendekatan sastra-dialektis adalah cerminan masyarakat yang sedang coba diangkat oleh pengarang untuk menunjukkan pada pembaca perihal sisi kehidupan, sisi yang mestinya diobati dari masyarakat.
Betapa sastra sedang berusaha untuk ikut andil dalam menentukan tatanan hidup yang lebih baik. Melalui kelembutan perasaan dan ketajaman memandang realitas, sastra menghimpun pengetahuan dan pengalaman. Dimensi yang tak terjangkau oleh pandangan umum masyarakat sedang coba dilampaui oleh para pelaku sastra. Lalu ide-ide kreatif yang relevan dan visioner adalah buah dari proses pertapaan panjang sang begawan sastra.
Dengan ketersadaraan yang jernih dan tanpa dikotori oleh kepentingan politis-individualis, dialektika antara problem kehidupan dan ikhtiar mencari jalan keluar akan membawa karya sastra pada posisi kebermanfaatan yang membumi.
