Begitulah, realitas memang seharusnya tak boleh dipisahkan dari ruang kontemplasi para pekerja sastra. Mengingat pijakan sebenarnya dari keresahan-keresahan alam pikir adalah kenyataan hidup itu sendiri, bukan imajinasi atau polemik ide yang jauh dan terisolasi dari bumi manusia.
Kembali pada soal yang lebih sederhana dan dekat dengan kita sebagai seorang santri, dalam tradisi pesantren, sebenarnya sastra memiliki ruang tersendiri dalam kajian-kajian ilmiah pesantren. Tak sedikit pesantren yang kukuh mempertahankan kajian-kajian gramatikal bahasa arab, seperti pelajaran nahwu, shorof, balaghah, dan lughoh atau bahasa. Ini penting sebagai langkah awal seorang santri untuk menimbah warisan literatur klasik, termasuk tentang sastra.

Banyak negarawan, budayawan, dan sastrawan yang dilahirkan dari rahim pondok pesantren. Dengan bekal prinsip-prinsip luhur yang diperoleh dari pesantren, mereka hadir di tengah masyarakat untuk sama menciptakan kehidupan yang tak hanya baik dan benar, tapi juga indah.
Sastra pesantren barangkali adalah wadah bagi sebuah usaha yang tidak melulu tentang art to art saja, yang sebagaimana ditolak oleh Moh Iqbal, tapi lebih kepada perbaikan moral dan ikhtiar bersama untuk mengobati, lewat kritik yang membangun, luka-luka masyarakat akibat kurang adilnya penguasa, maupun borok-borok masyarakat yang diselenggarakannya sendiri.
***
Tulisan ini mungkin sama sekali tak menjawab pertanyaan tentang seberapa berpengaruhnyakah sebuah karya sastra. Tapi memang penulis merasa tak perlu menjawab soal itu. Biarlah para pembaca sendiri yang merasakan pengaruhnya. Tentunya sesuai kadar pengetahuan dan pengalaman pribadi.
