“Adanya diskusi sastra itu tidak hanya penting, tapi menjadi keniscayaan di tengah ketidakimbangan antara karya sastra dan kritik sastra,” ujar Angin, yang juga akan bertindak sebagai moderator dalam acara ini.
Forum diskusi ini secara spesifik akan membedah buku karya Yusri Fajar, yang salah satu fokusnya menyoroti minimnya kritikus sastra handal di Indonesia.

Sejak berpulangnya sang Paus Sastra HB Jassin, ruang kritik sastra seolah kehilangan nakhoda. Minimnya kritikus yang tekun dan konsisten ini, menurut Yusri dalam bukunya, berdampak langsung pada tergerusnya “pergulatan” intelektual di dunia sastra itu sendiri.
Di tengah arus karya sastra yang kian membanjir, sebuah senjang menganga tak terhindarkan: minimnya kritik sastra yang mumpuni.
