Tak perlu ahli lingustik untuk mengerti bahwa kalimat tersebut merupakan percakapan antara majikan dengan babu. Tak perlu ahli psikoanalisis untuk mengerti bahwa dalam alam bawah sadar sang komikus terkandung stereotype bahwa tokoh yang satu dalam pose foto itu lebih laik disebut sebagai babu dan lainnya sebagai juragan. Itu artinya, bersembunyi di balik kebebasan berekspresi apa pun, kutipan dialog dalam meme tersebut dengan telanjang mempertontonkan adanya pelecehan terhadap kehormatan seorang ibu, entah yang satu atau yang lainnya.
Tentu saja, meme tersebut, yang diunggah pada 17 November 2022 oleh Kharisma Jati di akun Twitter @KoprofilJat, langsung memantik kehebohan dan menyulut kemarahan publik. Bahkan, Gibran yang lucu dan Kaesang yang kocak pun seakan kehilangan kejenakaan karena harus membendung gelombang kemarahan.

***
Apa yang terjadi pada Kharisma Jati ini sesungguhnya sebuah konfirmasi betapa rasa benci telah membutakan mata hati. Juga, adanya generasi yang telah tercerabut dari akar-akar tradisi. Tradisi yang memuliakan kedudukan seorang ibu, yang kehormatannya harus dijaga oleh semua orang —ibu dari siapa pun.
Orang Jawa memiliki ungkapan yang bernas akan tradisi ini: ibumu adalah pepundenmu. Lamat-lamat aku masih ingat akan cerita bapakku. Saat akan pergi merantau, ia harus memperoleh restu dari ibunya. Untuk itu, ia harus tidur telentang di depan pintu, kemudian dilangkahi oleh kaki sang ibu bolak-balik hingga tiga kali. Itu tanda ibu telah memberi restu. Sebelum itu, bapakku tak akan berani meninggalkan pintu.
Hari ini, tradisi itu akan tampil seperti fiksi —atau sesuatu yang dibidahkan dan diharamkan oleh kaum Wahabi. Padahal nyata-nyata terjadi di masa lalu, yang sekarang banyak tersimpan dalam legenda. Malin Kundang adalah salah satu cerita legenda yang masih popular hingga hari ini. Legenda ini untuk mengingatkan agar generasi-generasi yang datang susul menyusul tidak tercerabut dari akar-akar tradisi. Tradisi yang menjunjung tinggi kehormatan seorang ibu.
