Sepinya Gerakan Puisi

Sebagai seorang jenius puisi, Chairil mengeksplorasi kekuatan jiwanya untuk mengatakan apa-apa yang keseharian dengan begitu mempesona. Bukan hanya keindahan yang melekat dalam puisi-puisinya, tetapi juga sikap hidup yang begitu kuat untuk memaknai keseluruhan pengalaman kehidupan yang mampu dicerapnya. Chairil telah mengawali sekaligus mewakili sebuah gerakan seni sebagai pembaharuan atas kualitas hidup yang dekaden.

Penyair besar kita, WS Rendra meneruskan gerakan pembaharuan pada puisi, dengan mengambil inspirasi dari penyair Frederico Garcia Lorca, ia menuliskan puisi-puisi balada dan mengeksplorasi kehidupan yang lebih luas, seperti politik, ekonomi, sosial budaya, dan spiritual. Rendra, kita tahu, telah banyak bersuara tentang ketidakadilan yang terjadi di masa Orde Baru dengan puisi pamfletnya. Di sisi yang lain, kita juga mengenal penyair Wiji Thukul yang menyuarakan protes dengan begitu dahsyatnya melalui puisi-puisinya sampai ia harus menebus dengan kehilangan nyawa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tiga sekawan, Sapardi Djoko Damono, Subagio Sastrowardoyo, dan Goenawan Mohamad juga melakukan gerakan puisi yang menghasilkan bentuk-bentuk puisi modern dan juga menulis kritik sastra untuk melihat perkembangan puisi dari masa ke masa, sebuah pekerjaan yang kini dalam sastra Indonesia telah sepi. Kita ingat, sebelum mereka HB Jassin, melakukannya dengan begitu tekun.

Tinggalkan Balasan