Simposium Kosmopolitanisme Islam Nusantara Dibuka Kiai Said

Lebih jauh Kiai Said menjelaskan, Islam akan berkembang dengan baik jika mampu menjadikan kebudayaan sebagai infrastrukturnya, bukan justru menolaknya. Dan, lanjutnya, dengan begitu Islam Nusantara bukan hanya praktik keislaman di wilayah Nusantara, tapi juga di belahan dunia lain. “Sepanjang mau menerima dan menjadikan kebudayaan sebagai insfrastrukturnya, itulah Islam Nusantara,” katanya.

Kiai Said berharap simposium internasional ini mampu melahirkan dan mengembangkan pemikiran-pemikirana baru di dunia Islam yang rahmatan lilalamin. Yang bisa menghargai dan menerima kebudayaan-kebudayaan yang berkembang di masyarakat namun secara syariat memang tidak bertentangan dengan Islam.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setelah dibuka secara resmi oleh Kiai Said, sesi pertama smposium ini menghadirkan dua pembicara utama, yakni Prof Michael Feener dan Prof Azyumardi Azra. Dalam pembahasannya, Michael Feener memaparkan bahwa jalur perdagangan antara kawasan Timur Tengah yang dimulai dari pantai timur Yaman, Teluk Benggala, Malaka, Nusantara, hingga Cina, adalah satu jalur yang menghubungkan dua kawasan besar yang menjalin perdagangan rempah. Jalur ini membentuk kultur istana serta kultur Islam vernakular ala Asia Tenggara.

One Reply to “Simposium Kosmopolitanisme Islam Nusantara Dibuka Kiai Said”

Tinggalkan Balasan