Stop Merundung yang Dirundung Covid-19

Si Yahudi terkejut ketika melihat Rasulullah datang. Ia mengira bahwa Rasulullah hendak membalas dendam. Si Yahudi bertanya, mengapa Rasulullah harus menunggu sampai dirinya sakit untuk membalas dendam terhadapnya.  Mengapa Rasulullah tidak datang ketika dirinya masih sehat.

Rasulullah lantas menjelaskan maksud kedatangannya semata-mata untuk menjenguk orang yang sedang sakit. Rasul mengaku prihatin. Jawaban Rasulullah yang lembut dan tulus itu meluluhkan hati orang Yahudi ini. Tak hanya itu, Rasulullah juga mendoakan untuk kesembuhannya. Karena melihat kemualiaan ahklak Rasulullah, orang Yahudi itu terharu hingga menangis tersedu-sedu. Ia pun berujar, “Wahai Muhammad, mulai sekarang aku akan mengikuti agamamu.” Kemudian orang Yahudi itu pun mengikrarkan dua kalimat syahadat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tidak hanya itu teladan dari Rasul. Ketika mengetahui ada sahabatnya yang sakit, Rasulullah berusaha menjadi orang pertama yang bergegas menjenguk. Ketika menjenguk, kebiasaan Rasulullah adalah mendekati orang yang sakit dan duduk di dekat kepalanya. Beliau pun menanyakan keadaan orang yang sakit, mengusap kepalanya sambil berdoa.

“Ya Allah, Tuhan sekalian manusia, sembuhkanlah penyakit ini. Tidak ada yang bisa menyembuhkannya selain Engkau! Sembuhkanlah hamba-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Penyembuh dengan penyembuhan yang tidak meninggalkan bekas.”

Misalnya, ketika menjenguk Sa’ad bin Abi Waqqash, Rasulullah SAW memanjatkan doa sebanyak tiga kali. “Ya Allah! Sembuhkanlah Sa’ad, Ya Allah! Sembuhkanlah Sa’ad, Ya Allah! Sembuhkanlah Sa’ad.”

Selain itu, beliau terbiasa membawakan buah tangan yang disukai oleh orang yang sakit. Rasulullah tidak pernah mengkhususkan waktu tertentu untuk menjenguk orang yang sakit. Bila pagi hari datang menjenguk, datanglah. Bila sore hari menjenguk maka datanglah. Niscaya, berkah Allah akan selalu menyelimuti orang tersebut.

Salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib, Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا عَادَ الرَّجُلُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ مَشَى فِيْ خِرَافَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ فَإِذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ، فَإِنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ

Artinya: “Apabila seseorang menjenguk saudaranya yang muslim (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan surga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras. Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendoakannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendoakannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih).

Tinggalkan Balasan