SUARA YANG MENOLAK DIBUNGKAM

JERITAN PADA MENARA SUCI

Dalam lipatan jubah yang tampak bersih,
ada rintihan yang tertimbun malam sunyi.
Bumi pesantren bergetar lirih,
menyimpan luka yang mulai pedih,
sementara ayat-ayat gugur
oleh kuasa yang berlebih.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kami hanyalah seorang al-fakir
yang dahulu datang membawa asa,
menghafal doa di sela sembahyang,
menjahit masa depan
pada anyaman kitab-kitab usang.

Namun tangan yang diharap membawa pelita
menjelma sosok
yang lapuk dimakan kuasa,
memadamkan pelita asa.
Lidah kami dirantai wibawa
yang dipuja seribu mata.

Ia menjulang
bagai menara tak terhingga,
terlalu tinggi untuk digapai
secercah cahaya.

Ketika kami meratap,
seribu suara berkata:
“Diamlah, beliau orang suci.”

Apalah arti kesucian
jika tak mampu menyucikan?

Apalah arti kewibawaan
jika kehilangan perikemanusiaan?

Ia hanyalah hewan
berlabel manusia.

Ketika air mata menjadi sungai sunyi,
kami hanya menatap awan
yang tak lagi berseri.

Entah,
masih mungkinkah kami menggapainya?
Lantas, di manakah muara keadilan—
pada hati nurani
atau sosok yang digadang suci?

Kini dengarlah:
kesucian bukan tameng
bagi kebusukan.

Tinggalkan Balasan