Jika ditarik ke belakang, akar sikap itu tertanam sejak pelayaran menuju Singapura: bahwa kebenaran tak pernah aman, dan keberanian selalu menuntut risiko.
Di tengah ketegangan sejarah, hidup tetap berjalan. Pernikahannya dengan Esiyati Ismail menghadirkan ruang teduh—tempat pulang dari kegelisahan panjang seorang penyair. Dari rumah itulah kerja kebudayaan dirawat, diskusi dibangun, sekolah-sekolah dikunjungi lewat program “Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya”.

Kiai, lewat surat ini, izinkan saya menyisipkan pengakuan yang sangat personal di antara rentetan sejarah itu. Saya merasa beruntung menjadi bagian dari keluarga besar Majalah Sastra Horison, majalah yang putra bapak dirikan dan rawat dengan kesungguhan intelektual serta kesabaran kultural yang panjang. Bukan semata karena majalah itu prestisius atau karena kontribusinya yang besar terhadap tumbuh kembang sastra dan generasi sastra Indonesia, melainkan karena alasan yang lebih batiniah. Di ruang redaksi dan dalam pergaulan kebudayaan yang dibangunnya, saya belajar tawadhu, belajar merawat silaturahahmi dengan siapa pun tanpa memandang latar, dan terutama belajar untuk tidak lekas puas serta tidak tergoda menjadi sombong oleh sedikit pujian.
Dari putra Kiai pula saya semakin memahami bahwa kepenyairan bukan sekadar bakat, melainkan jejak sejarah yang panjang dan teruji. Sebagaimana saya ungkapkan kisah beliau ketika ikut serta melakukan perjalanan ke Singapura bersama Kiai untuk membarter rempah-rempah dengan senjata. Setiap kali kisah itu terucap, saya selalu membayangkan seorang anak remaja yang seharusnya sibuk dengan dunia sekolah dan permainan, tetapi justru telah diperkenalkan pada risiko kematian dan harga sebuah kemerdekaan. Dari sana saya belajar bahwa puisi yang kelak lahir bukanlah puisi ruang tamu, melainkan puisi yang pernah mencium bau mesiu dan asin laut.
Ah, Kiai, dari Ibu Ati—Esiyati Ismail—saya juga belajar bagaimana bersikap dan bagaimana mencintai dengan sederhana namun mendalam. Betapa romantisnya putra bapak kepada istrinya; romantika yang tidak dibuat-buat, tidak teatrikal, tetapi mengalir wajar dalam keseharian. Itu tidak hanya tergambar dalam puisinya yang terkenal, “Adakah Suara Cemara (buat Ati)” yang ditulis pada 1973—
Adakah suara cemara
Mendesing menderu padamu
Adakah melintas sepintas
Gemersik dedaunan lepas
Deretan bukit-bukit biru
Menyeru lagu itu
Gugusan mega
Ialah hiasan kencana
Adakah suara cemara
Mendesing menderu padamu
Adakah lautan ladang jagung
Mengombakkan suara itu.
—tetapi juga terasa dalam percakapan sehari-hari, terutama ketika keluarga besar Horison berkumpul di kediaman beliau. Di sana saya menyaksikan bagaimana seorang penyair besar tetap memanggil istrinya dengan kelembutan, bagaimana canda kecil menjadi bahasa cinta, dan bagaimana rumah menjadi benteng paling teduh dari riuh sejarah.
Ketika pada 2005 ia menerbitkan Malu Aku Jadi Orang Indonesia, itu bukan sekadar buku, melainkan teguran terbuka. Ia berakar pada revolusi, pada jalur gelap perjuangan, pada kekecewaan terhadap bangsa yang berkali-kali mengkhianati cita-cita awalnya. Puisi menjadi cermin sekaligus cambuk.
Surat dan sekaligus pengantar buku skenario ini saya susun dengan kesadaran bahwa puisi, sejarah, dan dokumentasi visual tak terpisah. Ia bukan penutup pembacaan, melainkan pembuka ingatan kolektif tentang bagaimana Republik dibangun—dan bagaimana kata-kata ikut menjaga, menegur, bahkan menggugatnya. Jika kemerdekaan pernah dipertaruhkan di atas gelombang laut menuju Singapura, maka puisi adalah cara lain memastikan pengorbanan itu tidak sia-sia.
Lebih dari itu, film dokumenter ini diharapkan menjadi jembatan agar generasi kini tak hanya mengenal Taufiq Ismail sebagai nama besar, tetapi membaca dan menyentuh karya-karyanya. Puisi-puisinya bertaut dengan luka sosial, ketimpangan ekonomi, kegelisahan moral, dan nilai keagamaan yang reflektif. Sastra bukan pelarian; ia medan kesaksian.
Dengan demikian, skenario dan film ini bukan sekadar arsip visual atau penghormatan biografis, melainkan undangan membaca ulang Indonesia melalui puisi. Dalam puisi-puisinya, sejarah tidak membeku, agama tak menjadi alat kuasa, dan bangsa tak dipuja buta. Ia ditanya, ditegur, diajak bercermin.
Kiai, engkau tidak hanya melahirkan dan mendidik seorang sastrawan besar bernama Taufiq Ismail. Engkau adalah bara yang menyalakan nyalanya. Engkau bukan sekadar ayah bagi seorang penyair, melainkan pejuang yang menanamkan keberanian di jantung sejarah bangsa ini. Di antara deru ombak Selat Jawa, Sumatera dan Malaka, di gelap palka kapal yang menyimpan senjata, di lereng-lereng Singgalang yang diburu patroli, jejak langkah Kiai telah menjadi bagian dari denyut kemerdekaan yang sering tak disebut, namun tak pernah benar-benar hilang.
Bangsa ini mungkin lebih mudah mengingat nama-nama yang berdiri di podium, tetapi sejarah juga ditopang oleh mereka yang bekerja dalam sunyi—yang memanggul risiko tanpa sorot cahaya. Kiai adalah salah satu kunci penting itu: penghubung antara doa dan daya, antara fatwa dan fakta, antara keyakinan dan tindakan nyata. Tanpa keberanian semacam itu, Republik ini mungkin hanya tinggal cita-cita yang tertulis di kertas.
Melalui surat ini, Kiai, dengan sepenuh hati dan kerendahan jiwa, saya memanjatkan doa: semoga negeri yang dahulu Kiai bela dengan gula, lada, dan keberanian itu, suatu hari benar-benar menengok ke belakang dengan adil. Semoga pemerintah Indonesia menyematkan nama Kiai sebagai pahlawan bangsa—bukan semata sebagai ulama yang dihormati, melainkan sebagai pejuang yang mempertaruhkan nyawa demi tegaknya merah putih.
Depok, Jawa Barat-Yogyakarta, 2-16 Februari 2026.
